Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan pihaknya juga menggunakan cadev sebesar US$2 miliar untuk membayar utang pemerintah yang sudah jatuh tempo. Alhasil, cadev per akhir Maret tercatat sebesar US$121 miliar, turun US$9,4 miliar dari sebelumnya yang sebesar US$130,4 miliar.
"Cadev kami akui menurun untuk sebesar US$2 miliar bayar utang pemerintah yang jatuh tempo lalu US$7 miliar untuk stabilisasi rupiah," ucap Perry dalam video conference, Selasa (7/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rupiah hari ini menguat menjadi Rp16.125 per dolar AS, sehingga hari ini menguat 1,56 persen dibandingkan penutupan kemarin," kata Perry.
Sementara, Perry juga tak khawatir karena BI memiliki kerja sama dengan sejumlah bank sentral lain sebagai upaya pertahanan lapis kedua (second line of defense) dalam memasok ketersediaan dolar di dalam negeri. Kerja sama itu salah satunye berbentuk bilateral swap dengan bank sentral China sebesar US$30 miliar, Jepang US$22,7 miliar, Singapura US$7 miliar, dan Korea Selatan US$10 miliar.
"Kami merasa cadev lebih dari cukup tapi kalau dibutuhkan lebih kami ada second line of defense yang bisa digunakan untuk menjaga stabilitas rupiah dan ekonomi," pungkas Perry. (aud/agt)