"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada tanggal 13-14 April 2020 memutuskan untuk mempertahankan BI 7DRR di posisi 4,5 persen," ucap Gubernur BI Perry Warjiyo, Selasa (14/4).
Perry menjelaskan keputusan ini diambil usai mempertimbangkan kondisi ekonomi global dan nasional. Dari sisi global, BI mengatakan risiko resesi ekonomi kembali meningkat akibat penurunan proses produksi akibat terhambatnya mobilitas manusia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sehingga menurunkan laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan investasi. Utamanya akan terjadi pada kuartal II 2020," jelasnya.
Namun, bank sentral memperkirakan ekonomi nasional bisa membaik pada kuartal III 2020 dengan laju keseluruhan mencapai 2,3 persen pada akhir tahun. Proyeksi ini jauh lebih tinggi dari pemerintah, di mana skenario terburuk mencapai minus 2,6 persen.
Kendati begitu, memang aliran modal asing masih menjadi tantangan bagi sektor keuangan karena tercatat net outflow sejak awal tahun. Sementara dari sisi defisit transaksi berjalan diperkirakan masih bisa dijaga di kisaran 2,0 persen hingga 3,0 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
"Defisit transaksi berjalan pada kuartal I 2020 diperkirakan akan lebih rendah dari 1,5 persen dari PDB dan aliran modal asing diperkirakan akan berangsur-angsur kembali ke Indonesia," katanya.
Lalu, BI juga mempertimbangkan posisi cadangan devisa yang kembali turun dari US$130,4 miliar pada Februari 2020 menjadi US$121 miliar pada Maret 2020. Penurunan cadangan devisa terjadi guna menstabilkan nilai tukar rupiah.
Selanjutnya, bank sentral juga mempertimbangkan kondisi nilai tukar rupiah. Secara rata-rata, BI mencatat mata uang Garuda sudah terdepresiasi 11,18 persen. Pada 13 April 2020, rupiah menguat 4,53 persen dibanding akhir Maret 2020.
"Penguatan rupiah didorong oleh masuknya suplai valuta asing oleh pelaku usaha domestik. Kami perkirakan rupiah akan stabil dan menguat ke Rp15 ribu per dolar AS pada akhir 2020," tuturnya.
BI, katanya, akan terus memperkuat kebijakan stabilitas nilai tukar rupiah dengan mekanisme triple intervention di spot, SBN, dan pasar sekunder. Khususnya pada saat pasar mendapat tekanan.
Sedangkan inflasi tahun berjalan sebesar 0,76 persen dan inflasi tahunan 2,96 persen. Bank sentral memperkirakan target inflasi sebesar 3 persen plus minus 1 persen akan tercapai tahun ini.
Di luar kondisi makroekonomi, RDG BI juga memantau perkembangan indikator perbankan. Misalnya, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) bank sebesar 22,27 pada Februari 2020 dan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) sebesar 2,79 persen (gross) atau 1,04 persen (net) pada bulan yang sama.
"Ke depan, Bank Indonesia akan terus menempuh koordinasi dengan otoritas terkait, sehingga bisa tetap menjaga stabilitas keuangan dan mendorong fungsi intermediasi perbankan," pungkasnya.
[Gambas:Video CNN]
(uli/sfr)