Kendati demikian, realisasi defisit tersebut lebih rendah dari posisi Maret 2019. Pasalnya, saat itu defisit tercatat Rp103,1 triliun atau 0,65 persen dari PDB.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan defisit terjadi karena realisasi pendapatan negara lebih rendah belanja negara. Pada Maret 2020, pendapatan negara baru mencapai Rp375,9 triliun atau 16,8 persen dari target di APBN 2020 yang sebesar Rp2.233,2 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sri Mulyani mengungkapkan pertumbuhan belanja terjadi karena peningkatan belanja K/L yang cukup tajam yaitu mencapai 11 persen menjadi Rp143 triliun. Lalu, belanja non K/L juga tumbuh 2,2 persen menjadi RpRp134,9 triliun.
Khusus untuk dana transfer ke daerah, realisasinya merosot 8,8 persen menjadi Rp174,5 triliun.
[Gambas:Video CNN]
Lebih lanjut, keseimbangan primer minus Rp2,6 triliun pada Maret 2020. Walaupun masih minus, realisasi itu jauh lebih baik dibandingkan dengan posisi Maret 2019 yang minus Rp32,5 triliun.
Sementara, pembiayaan anggaran tercatat sebesar Rp74,2 triliun pada akhir bulan ketiga lalu. Angkanya jauh lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu, Rp177,9 triliun. Pembiayaan anggaran pada awal tahun ini setara 24,2 persen dari asumsi APBN 2020 yang ditetapkan sebesar Rp307,2 triliun.