Lebih dari prediksi batas waktu itu, ia menaksir banyak perusahaan akan bangkrut karena tak ada pemasukan. Diketahui PSBB sudah diberlakukan di Bogor, Depok, Bekasi dan akan menyusul di Bandung Raya, Jawa Barat.
"Dihitung dari likuiditas kami, operating expense kami, mungkin hanya bertahan 6 sampai 10 minggu. Dari sisi dampak tadi harus secepatnya. [Kalau tidak] iya, bisa collapse," ujarnya kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Sabtu (18/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Juga ada yang terpaksa harus melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Namun, PHK pun masih terlampau berat bagi pengeluaran perusahaan.
"Walaupun PHK kan pesangonnya harus dibayar. Nah, untuk membayar pesangon, likuiditas perusahaan dalam situasi seperti ini tidak akan kuat juga," tutur Tatan.
Dalam hal ini, Tatan meminta pemerintah memberikan stimulus moneter dan fiskal bagi pelaku usaha yang masih beroperasi dan tidak. Hal ini supaya relaksasi pajak, relaksasi belanja modal dan relaksasi operasional lebih ringan.
Tatan mengatakan meskipun Otoritas Jasa Keuangan sudah menginstruksikan keringanan kredit kepada bank selama wabah corona, kebijakan tersebut keputusannya tetap di tangan masing-masing perbankan.
"Tapi buah simalakama juga. Kalau UMKM yg Rp10 miliar ke bawah dibikin kebijakan yang terdampak langsung, ya otomatis likuiditas bank juga berat. Dan harus dipastikan pemegang saham bank harus setor. Kalau tidak ada collapse juga bank-nya," tambahnya.
PSBB sudah diterapkan di Bogor, Depok dan Bekasi sejak Rabu (15/4) lalu. Kemudian PSBB akan diterapkan di Bandung Raya mulai Rabu (22/4). Selama PSBB semua sektor usaha diminta tidak melakukan aktivitas fisik atau tutup sementara, yang masih bisa beroperasi hanya delapan sektor tertentu.
[Gambas:Video CNN]
(fey/age)