Tekanan tersebut berpotensi mengancam ketersediaan pangan. Enam pekan lockdown membuat para petani Italia tak bisa berbuat apa-apa.
Upaya memutus mata rantai penyebaran virus corona juga berarti menutup mata pencaharian mereka. Blokade di perbatasan, penutupan restoran dan ketiadaan pekerja musiman menjadi kendala yang dihadapi bisnis sektor buah dan sayuran di negara yang terletak di Eropa Selatan itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tindakan Mendesak
"Sesuatu harus segera dilakukan, karena panen stroberi, asparagus, artichoke, dan buah-buahan di rumah kaca (seperti melon, tomat, dan paprika) sudah berlangsung," menurut Coldiretti, serikat pekerja pertanian terbesar di Italia.
Sektor pertanian Italia adalah yang terbesar ketiga di Eropa. Sektor tersebut menghasilkan nilai 56,6 miliar euro atau sekitar Rp934 triliun bagi ekonomi negara tersebut pada 2019 lalu.
[Gambas:Video CNN]
Hasil tersebut terbesar ketiga setelah Prancis (75,4 miliar euro atau sekitar Rp1,26 kuadriliun), dan Jerman (57 miliar euro atau sekitar Rp958 triliun).
Untuk mengatasi masalah tersebut, Italia dan Rumania sedang berdiskusi. Diskusi dilakukan untuk mempermudah pergerakan masyarakat kedua negara. Sekitar sepertiga tenaga musiman yang bekerja di Italia memang berasal dari Rumania. Menteri Pertanian Teresa Bellanova juga menyerukan aturan mengenai perpindahan massa tanpa dokumen demi menggerakkan ekonomi.
Saat ini banyak orang-orang yang tinggal di kota kumuh dan dieksploitasi mafia dan sistem tenaga kerja ilegal atau yang dikenal sebagai 'caporalato', di mana perantara yang membawa pekerja ke petani mengambil mayoritas upah yang tidak seberapa.
Proposal mengenai tenaga kerja tersebut disetujui Coldiretti. Namun sayangnya, proposal tersebut tidak mendapat restu dari golongan sayap kanan.
Paling Kering dalam 60 Tahun
Selain virus, kekeringan juga menjadi masalah bagi petani Italia. Bahkan bisa dibilang ini adalah musim semi terkering dalam 60 tahun terakhir.
Danau Como, yang terbesar ketiga di Italia, terlihat dangkal. Menurut pakar cuaca, curah hujan awal tahun ini hanya separuh dari biasanya.
"Sudah lama tidak turun hujan dan tanahnya gersang, terutama untuk gandum. Situasinya kritis, kami perlu mengairi ladang," ujar Fanizza.
Pendekatan tersebut diyakini bisa membantu orang kelaparan, memangkas limbah, dan mencegah kemerosotan harga. (nva/agt)