Penurunan terbesar ini terjadi pertama kali dalam sejarah karena kelebihan pasokan minyak di tengah pandemi virus corona yang melanda negara-negara di dunia.
Dikutip dari Antara, Selasa (21/4), minyak mentah berjangka WTI untuk pengiriman Mei merosot US$55,9 atau lebih dari 305 persen ke level minus US$37,63 per barel di New York Mercantile Exchange.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para analis melihat pedagang akan bergegas untuk membongkar posisi mereka menjelang berakhirnya kontrak yang berkontribusi pada penurunan bersejarah.
"Kami menghubungkan pelemahan harga WTI dengan berakhirnya kontrak Mei besok dan volume perdagangan rendah yang menyertainya," kata Giovanni Staunovo, Analis Komoditas di UBS Global Wealth Management.
"Penurunan lebih banyak dalam kontrak berjangka yang likuid cair mencerminkan masalah yang lebih luas yang kita miliki di pasar minyak, kelebihan pasokan parah di kuartal kedua," jelasnya.
Permintaan minyak global diperkirakan turun dengan rekor 9,3 juta barel per hari (bph) tahun ke tahun pada 2020. Hal ini disampaikan oleh Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan dalam laporan bulanannya yang baru dirilis.
"Dampak dari tindakan penguncian wilayah (lockdown) di 187 negara dan wilayah telah membuat mobilitas hampir terhenti," kata IEA, menambahkan permintaan pada April diperkirakan 29 juta barel per hari lebih rendah dari tahun lalu.
Ketika miliaran orang di seluruh dunia tinggal di rumah untuk memperlambat penyebaran virus corona baru, permintaan fisik untuk minyak mentah telah mengering, menciptakan kelebihan pasokan global.
[Gambas:Video CNN]
(age/bir)