Malang tak dapat ditolak, karena permintaan yang seret, harga ikan pun jatuh. Otomatis, pendapatan pun ikut anjlok.
Asmania, misalnya. Perempuan nelayan asal Pulau Pari mengatakan sejak wabah menyebar harga ikan tangkapannya yang biasanya laku Rp15 ribu per kilogram (kg) kini anjlok jadi Rp7 ribu-Rp8 ribu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari mana-mana ke pelelangan semua, menumpuk semua di sana tapi pembeli tidak ada. Jadi pelelangan tidak menerima," ujar Asmania.
Untuk menyiasati hal tersebut, Asmania dan nelayan lain di Pulau Pari mengolah hasil tangkapannya menjadi ikan asin. Hal itu dilakukan agar hasil tangkapan itu tetap bisa dijual.
[Gambas:Video CNN]
"Jadi ikan yang kami dapat dibuat asin untuk bertahan hidup di pulau bagaimana caranya agar bisa terjual," terang dia.
Asmania berharap pemerintah bisa mengulurkan tangannya untuk membantu nelayan. Ia meminta ada solusi agar hasil tangkapan nelayan bisa kembali diserap oleh masyarakat.
Nelayan lainnya, Muhammad Tahir menyatakan hasil tangkapannya tak lagi laris dibeli masyarakat. Sebab, penyebaran virus corona telah mempengaruhi daya beli masyarakat.
"Kami melihat pergerakan ekonomi nelayan pembudi daya dan petambak semakin hari semakin terpuruk," katanya.
Selain itu, ia juga berharap agar pemerintah juga bisa memberikan fasilitas alat tangkap kepada nelayan secara hibah. Bantuan itu bisa dijadikan bagian dari ketahanan pangan di dalam negeri.
"Kami melihat dengan situasi saat ini jika terjadi berkepanjangan akan berdampak pada kebutuhan stok ketahanan pangan dan ekonomi. Nelayan dan petani harus mendapatkan prioritas bantuan dari pemerintah daerah dan pusat," jelas Tahir.
CNNIndonesia.com sudah berupaya untuk meminta tanggapan ke Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo dan Staf Khusus Menteri KKP Miftah Nursabri atas keluhan nelayan tersebut. Namun sampai dengan berita diturunkan, mereka belum memberikan responsnya.