Menurut United Airlines wabah penyakit yang mulai muncul pada Desember 2019 itu menyebabkan permintaan perjalanan udara turun drastis.
Analis yang disurvei penyedia data infrastruktur dan pasar keuangan, Refinitiv, memperkirakan pendapatan maskapai turun lebih dari 200 persen pada kuartal pertama. Tak berbeda jauh, data Factset juga menyebut setiap maskapai akan merugi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
United, Delta, dan America, yang merupakan operator utama di AS saat ini sebelumnya tak pernah melaporkan kerugian dalam lebih dari lima tahun.
Sebenarnya pada Januari, Februari, hingga awal Maret bisnis maskapai berlangsung normal sebelum kemudian terjun bebas.
Maskapai-maskapai sudah memangkas jadwal penerbangan bulan Mei hingga 90 persen dan memprediksi kondisi yang sama bakal berlanjut setidaknya hingga 2021.
Untuk menghadapi krisis, kongres AS menyetujui hibah dan pinjaman berbunga rendah senilai US$25 miliar sekitar Rp389 triliun, dengan syarat maskapai tidak memberlakukan pemutusan hubungan kerja, merumahkan karyawan, atau pemotongan gaji terhadap 750 ribu karyawan hingga September.
Analis maskapai JPMorgan Chase menulis pekerja industri maskapai akan menghitung hari hingga Oktober atau setelah melewati batas durasi syarat pemerintah AS.
"Sayangnya kami tidak melihat cara maskapai penerbangan AS untuk menghindari PHK besar-besaran," tulis Jamie Baker.
[Gambas:Video CNN]
(nva/sfr)