Perintah Trump akan berdampak bagi keuangan Chevron yang telah berinvestasi membangun fasilitas pengembangan eksplorasi sumber daya minyak di Venezuela sejak 1912 silam. Chevron mengembangkan bisnis melalui kerja sama patungan dengan PDVSA, perusahaan minyak lokal Venezuela.
Menanggapi Trump, manajemen Chevron memastikan perusahaan akan tetap bekerja maksimal di sisa akhir masa produksi. Sebab, perusahaan masih diperbolehkan melakukan pemeliharaan terbatas dalam operasi penting di Venezuela.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama Chevron di Venezuela, perusahaan tidak diizinkan untuk mengekspor minyak atau memproduksi minyak dari Venezuela di bawah perintah pemerintah.
Perusahaan memproduksi 35 ribu barel per hari di Venezuela pada 2019 atau kurang dari 2 persen dari total produksi minyak global Chevron mencapai 1,9 juta barel per hari.
Tekanan Politik
Di sisi lain, perintah orang nomor satu AS itu akan menimbulkan keruntuhan sejarah bagi industri minyak Venezuela. Sebab, saat ini, Chevron merupakan perusahaan minyak asal AS terakhir di Venezuela.
Venezuela merupakan negara dengan cadangan minyak besar yang melebihi banyak negara di dunia. Namun, produksi minyak tidak meningkat pesat karena faktor kekuasaan politik, krisis kemanusiaan, dan sanksi keras yang diberlakukan AS.
"AS terus memperkuat kampanye tekanan maksimumnya terhadap rezim Maduro yang tidak sah. Tindakan ini selanjutnya akan menghilangkan akses ke jalur kehidupan finansial yang menjadi andalan Maduro untuk mempertahankan kekuasaan tiraninya atas Venezuela," ujar seorang pejabat senior administrasi Trump dalam sebuah pernyataan kepada CNN.
Padahal, empat perusahaan penyedia layanan minyak dan Chevron dikabarkan akan meminta perpanjangan lisensi baru atas bisnis terbatas mereka di Venezuela selepas Desember 2020.
Sejarah mencatat ada banyak perusahaan AS yang telah angkat kaki dari Venezuela akibat faktor politik kekuasaan hingga ekonomi di negara itu. Misalnya ExxonMobil dan ConocoPhillips yang meninggalkan Venezuela sekitar satu dekade lalu setelah Presiden Venezuela sebelumnya Hugo Chavez menasionalisasi ladang minyak yang dikelola asing.
Kemudian, Pepsi pada 2015 dengan kerugian US$1,4 miliar. Lalu, Mondelez, Bridgestone, Colgate, dan Kimberly-Clark, juga telah menutup bisnis mereka di Venezuela.
[Gambas:Video CNN]
(uli/bir)