Ketua APPI Suwandi Wiratno mengatakan proyeksi itu merupakan skenario terburuk apabila kasus penyebaran virus corona semakin masif dan debitur terus-menerus mengajukan pelonggaran pembayaran kepada multifinance.
"Ini potensi worst case-nya, total kerugian perusahaan pembiayaan untuk pembiayaan mobil dan motor sebesar Rp87,64 triliun," ujar Suwandi dalam video conference, Selasa (28/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan ilustrasi ini perusahaan pembiayaan berpotensi rugi secara materiil sebesar Rp14,05 juta untuk satu unit mobil senilai Rp100 juta dengan tenor tetap 60 bulan," jelas Suwandi.
Lihat juga:Laba HSBC Rontok 48 Persen di Tengah Corona |
"Potensi kerugian ini akibat arus kas terganggu dan tidak ada pembayaran dari konsumen," terang dia.
Di sisi lain, perusahaan pembiayaan memiliki kewajiban untuk membayar utang ke perbankan di tengah penyebaran virus corona ini. Suwandi menyatakan tidak ada relaksasi khusus kepada multifinance, sehingga arus kas rentan terganggu.
Oleh karena itu, Suwandi berharap multifinance bisa mendapatkan fasilitas pengajuan restrukturisasi kepada perbankan di tengah pandemi corona ini. Dengan demikian, arus kas perusahaan tetap bisa terjaga.
Sebagai informasi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan keringanan atau pelonggaran cicilan kredit bagi pekerja informal terdampak virus corona. Hal itu diatur melalui POJK No. 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional sebagai Kebijakan Countercyclical.
[Gambas:Video CNN]
(aud/bir)