Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Filianingsih Hendarta mensinyalir peralihan transaksi ke pembayaran digital karena terbatasnya mobilitas masyarakat di tengah pandemi virus corona dan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Sementara, outflow non-bank turun dari Rp9,27 triliun menjadi Rp8,93 triliun pada periode yang sama. Begitu pula aliran kas masuk (inflow) bank turun dari Rp38,5 triliun menjadi Rp36,54 triliun dan inflow non-bank turun dari Rp2,48 triliun menjadi Rp1,85 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penurunan drastis transaksi di EDC dimulai sejak diumumkannya kebijakan belajar dari rumah pada 16 Maret 2020 yang diikuti kebijakan work from home oleh instansi pemerintah dan swasta," ucapnya.
Filianingsih mengatakan transaksi tunai dan EDC masyarakat kini beralih ke pembayaran digital. Hal ini tercermin dari peningkatan volume dan nominal transaksi di QRIS.
"Ada perubahan behavior masyarakat dalam memilih media pembayaran yang shifting (beralih) ke (pembayaran digital) digital payment, seperti penggunaan QRIS yang meningkat," jelasnya.
Filianingsih mengatakan mayoritas transaksi digital digunakan untuk pembayaran kebutuhan belanja di e-commerce dengan nominal mencapai Rp27,3 triliun pada Maret 2020. Nominal transaksi digital untuk e-commerce naik 9,9 persen dari bulan sebelumnya.
Begitu pula dengan volume yang mencapai 98,3 juta atau naik 18,1 persen pada periode yang sama. Selain karena PSBB di tengah pandemi corona, ia mengatakan hal ini juga terjadi karena ada kebijakan integrasi pasar tradisional dan e-commerce, termasuk untuk penyaluran bantuan sosial (bansos).
[Gambas:Video CNN]
"Transaksi makanan dan minuman mencapai 59 persen, sekolah 34 persen, personal care, seperti hand sanitizer, masker 29 persen," tuturnya.
Ia menilai peralihan transaksi tunai dan EDC ke digital akan terus meningkat ke depan selama masa pandemi corona belum berakhir. Bahkan, bukan tak mungkin kebiasaan transaksi ini membuat masyarakat akan keterusan.
"Kami melihat akan ada new normal dari kebiasaan transaksi masyarakat, di mana digital jadi sangat pesat. Kami melihat selesai covid-19 bukan berarti transaksi digital berhenti, justru meningkat lagi, outlook-nya sampai 2023 pertumbuhan mencapai 17 persen," pungkasnya. (uli/bir)