Upaya ini dilakukan guna menyeimbangi pemasukan yang anjlok akibat berkurangnya permintaan.
"Opex kami potong 30 persen untuk grup, baik anak, cucu, hingga cicit perusahaan. Investasi juga lebih selektif kami potong 25 persen sehingga banyak investasi baru di hulu tidak dulu," jelasnya dalam video conference, Kamis (30/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Pertamina memanfaatkan harga minyak mentah yang murah untuk memenuhi kapasitas penyimpanan (storage). Ia menuturkan perseroan telah memborong 10 juta barel minyak mentah, 9,3 juta barela BBM, dan 2,2 juta metrik ton elpiji.
Bahkan, lanjutnya, persediaan Pertamina mencukupi untuk dua bulan dari biasanya 16-18 hari. "Kami beli sekitar 2-3 minggu lalu, tapi kami tidak bisa tambah lagi karena sudah penuh storagenya," paparnya.
Guna menggenjot pembelian, Pertamina juga memberikan layanan pengiriman kepada konsumen bekerja sama dengan ojek online. Ia mengaku Pertamina juga tengah melirik pasar ekspor baru untuk solar di tengah pandemi.
[Gambas:Video CNN]
Sebab, beberapa perusahaan yang biasanya memasok solar mengalami kebangkrutan akibat pandemi tersebut.
Nicke menuturkan Pertamina mengalami tiga tekanan sekaligus. Selain anjloknya permintaan, pelemahan nilai tukar rupiah juga ikut membebani kinerja perseroan.
Sebab, 93 persen pengeluaran Pertamina dalam denominasi dolar AS. Tapi, di sisi lain, pendapatan perusahaan justru berbentuk rupiah. Imbasnya, ia memprediksi pendapatan perseroan turun 38 persen hingga 40 persen tahun ini.
"Sehingga ini timbulkan mismatch, baik dalam laporan keuangan maupun arus kas," ujarnya.
Lihat juga:Efek Corona, Garuda Tunda Bayar Sewa Pesawat |
"Triple shock ini jalan bersamaan, dalam kondisi normal kalau ICP turun ini menurunkan Harga Pokok Produksi (HPP), tapi dengan catatan demand (permintaan) sama, tapi ketika demand turun ini jadi tidak imbang," jelasnya. (ulf/agt)