Bahkan, negara-negara dengan ekonomi skala besar seperti Amerika Seikat (AS), Arab Saudi, Jepang, dan Inggris juga merilis utang untuk membiayai keuangan negara di tengah pandemi.
"Mereka membantu pengangguran, UKM juga, mereka membantu supaya tidak bangkrut. Maka digunakanlah tadi instrumen, ini terjadi di Jerman, Italia, Prancis, Inggris, Jepang, Thailand tetangga kita," ujarnya melalui live Instagram, Jumat (1/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun merilis surat utang, bendahara negara menyatakan pemerintah tetap berhati-hati dalam menjaga keuangan negara. Salah satunya dengan memangkas belanja tidak prioritas untuk penanganan Covid-19.
Lihat juga:Sri Mulyani Pastikan Tak Naikkan Tukin PNS |
Akan tetapi, ia menuturkan defisit APBN Indonesia lebih rendah dibandingkan sejumlah negara lain.
"Australia, kemarin Menteri Keuangannya telepon saya, saya sekarang defisitnya naik 10 persen dari PDB, Singapura tetangga kita defisitnya sekarang tiba tiba 10 persen dari PDB. Itu namanya utang, AS stimulusnya 10 persen PDB itu ya utang juga," katanya.
Toh, lanjutnya, dalam hal ini pemerintah menambah utang untuk menjaga perekonomian. Misalnya, untuk menggelontorkan insentif kepada UMKM dan pengusaha, sektor kesehatan untuk menangani Covid-19, dan sebagainya.
"Ini hal-hal yang tidak pernah dilakukan sekarang dilakukan. Indonesia juga sama, sekarang dalam kondisi Covid masyarakat kena PHK, kemiskinan, tidak bisa bekerja, korporasi, kekurangan penerimaan, dan kredit,
imbuh Sri Mulyani.
"Di sisi lain pemerintah penerimaan pajak juga turun namun pemerintah harus memberi bantuan ke masyarakat dan usaha yang tadi terkena Covid," tambahnya. (ulf/bmw)