Mengutip Antara, Senin (4/5), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni naik 4 sen atau 0,2 persen ke posisi US$26,44 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni bertambah 94 sen atau 5 persen ke US$19,78 per barel.
Setelah tiga minggu berturut-turut mencatat kerugian, minyak mentah Brent naik sekitar 23 persen, sementara WTI meningkat sekitar 17 persen. Penguatan WTI didukung pengurangan rig minyak perusahaan energi AS selama tujuh minggu berturut-turut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bangkitnya harga minyak juga ditopang rencana pelonggaran penguncian wilayah (lockdown) di sejumlah negara. Pelonggaran rencananya dilakukan juga di Provinsi Hubei, tempat virus corona baru pertama kali terdeteksi.
Rencana pelonggaran lockdown ini sejalan dengan rencana pemotongan produksi sehingga memberikan sentimen positif pada minyak mentah.
[Gambas:Video CNN]
"Stok minyak bumi global kemungkinan memuncak pada April karena permintaan minyak menyusut hampir 25 juta barel per hari secara tahun ke tahun," tulis laporan BofA Global Research.
Namun demikian, masih terdapat keraguan jika pengurangan produksi OPEC+ mampu mengerek harga minyak. Pasalnya, permintaan minyak tidak mungkin pulih dengan cepat.
"Harga masih sangat rendah dan dua minggu ke depan kemungkinan akan kembali terjadi volatilitas ekstrem," ujar analis di broker OANDA Craig Erlam.
Senada,broker minyak PVM Stephen Brennock juga menuturkan pemotongan produksi oleh OPEC+ tak mampu mengerek harga minyak signifikan.
"Pemotongan produksi yang mulai berlaku hari ini tidak akan ada obat mujarab untuk ketidakseimbangan pasokan yang lumayan," ujarnya. (ulf/agt)