Sayangnya, 'pukulan' bagi ekonomi Hong Kong belum selesai. Virus Corona membuat pusat keuangan Asia kembali masuk ke dalam keterpurukan terparah yang pernah ada.
Dikutip dari CNN, ekonomi Hong Kong menyusut 8,9 persen pada periode Januari-Maret 2020 bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tahun lalu, PDB Hong Kong menyusut 1,2 persen karena protes besar-besaran pro-demokrasi. Kejadian tersebut memaksa toko-toko tutup, melumpuhkan jalan-jalan kota, dan membuat takut turis.
Perang dagang antara Beijing dan Washington pun menambah masalah, seperti halnya kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi China.
Investor kembali cemas tentang ketegangan baru antara Amerika Serikat dan China dan dampak yang terjadi pada ekonomi.
Sebenarnya, pada pekan sebelum pandemi virus corona, Hong Kong memiliki alasan untuk optimis menghadapi 2020 lebih baik dari 2019. Pasalnya, demonstrasi menjadi lebih jarang dan kesepakatan perdagangan awal memberikan secercah harapan bahwa hubungan antara Amerika Serikat dan China dapat membaik.
Sayangnya, virus corona telah menghancurkan harapan untuk pemulihan jangka pendek dan mengirim ekonomi ke penurunan yang bahkan lebih cepat. Jika dibandingkan dengan kuartal keempat yang sudah lemah pada 2019, PDB pada kuartal pertama masih menyusut 5,3 persen.
Tahun ini, pemerintah setempat memperkirakan ekonomi Hong Kong akan merosot 4 persen hingga 7 persen.
"Ekonomi merosot yang berkelanjutan mulai mengkhawatirkan," tulis Menteri Keuangan Hong Kong Paul Chan dalam sebuah unggahan blog pada Minggu (3/5) lalu.
Dia menambahkan bahwa tahun ini bisa menjadi yang terburuk bagi ekonomi Hong Kong. Namun, berharap ekonomi akan sedikit pulih, karena kota itu sudah mulai membuka pembatasan tempat kerja dan pertemuan sosial bulan ini.
[Gambas:Video CNN]
Kendati demikian, ekonomi Hong Kong belum akan bangkit secara signifikan dalam waktu dekat mengingat dunia masih berjuang melawan pandemi.
Pemerintah Hong Kong sendiri telah meluncurkan beberapa putaran bantuan kemanusiaan senilai 290 miliar dolar Hong Kong (setara dengan US$37 miliar) untuk meredam dampak wabah terhadap perekonomian.
Bantuan tersebut termasuk pemberian uang tunai 10.000 dolar Hong Kong (sekitar US$1.200) kepada penduduk yang memenuhi syarat.