"Angkanya (turun) paling dalam dibandingkan negara Asia, lebih dalam dari Jepang dan Korea Selatan," ungkap Sri Mulyani dalam video conference, Senin (4/5).
Sebagai catatan, pada Maret lalu, PMI Manufaktur Indonesia masih bertengger di level 45,3.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa yang terjadi di industri manufaktur, lanjut Sri Mulyani, sejalan dengan penurunan impor sepanjang kuartal I 2020. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor turun 3,69 persen menjadi US$39,17 miliar sepanjang Januari-Maret 2020.
"Indonesia mengalami kontraksi impor 3 persen seiring dengan kontraksi di industri manufaktur," katanya.
[Gambas:Video CNN]
Meski aktivitas manufaktur turun tajam, tapi Sri Mulyani masih cukup optimistis bahwa ekonomi kuartal I 2020 bisa tumbuh di atas 4 persen. Ia memproyeksi ekonomi domestik pada tiga bulan pertama tumbuh sekitar 4,5 persen-4,7 persen.
"Kami perkirakan masih bisa tumbuh antara 4,5 persen sampai 4,7 persen. Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2020 masih di atas 4 persen," pungkas Sri Mulyani.