Namun, salah satu penulis riset dari laporan Universitas Oxford Brian O'Callaghan menyebut untuk mewujudkan investasi tersebut bukanlah pekerjaan mudah. Untuk Indonesia misalnya, investasi di sektor energi terbarukan bertentangan dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah.
Diketahui, Menteri Keuangan Sri Mulyani merespons penanganan wabah virus corona dengan kebijakan yang bertentangan dengan prinsip energi terbarukan seperti memberikan diskon bahan bakar pesawat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pengurangan emisi akibat covid-19 hanya sementara. Laporan ini menunjukkan bahwa kita dapat memilih untuk membangun kembali dengan lebih baik dan menjaga agar tetap ada perbaikan seperti udara yang lebih bersih, kedekatan kembali dengan alam, dan mengurangi emisi gas rumah kaca," kata Cameron.
Dia menyarankan para kepala negara untuk mengambil kebijakan fiskal yang menawarkan perbaikan ekonomi sekaligus berdampak positif bagi iklim. Perbaikan yang mereka sarankan antara lain dengan menggenjot investasi infrastruktur dalam bentuk aset energi terbarukan, pengembangan teknologi penyimpanan energi (termasuk hidrogen), modernisasi jaringan, dan belanja teknologi terkait.
[Gambas:Video CNN]
Tak hanya itu, juga disebutkan bahwa pembangunan infrastruktur energi bersih cenderung bersifat padat karya, sehingga lapangan pekerjaan dapat diciptakan hingga dua kali lipat dibandingkan investasi bahan bakar fosil.
"Energi bersih tidak hanya terjangkau dan dapat diandalkan, tetapi juga menawarkan pengembalian investasi tertinggi. Investor memiliki selera yang semakin besar untuk menggunakan uangnya di bidang keuangan berkelanjutan. Pemerintah perlu menulis ulang peraturan sehingga mereka bisa (merealisasikan itu)," ungkap Direktur Centre for Climate Finance Imperial College Business School Charles Donovan.
Ia menambahkan, kebijakan pemberian insentif untuk maskapai, dukungan likuiditas ke perusahaan besar, bantuan pelaporan kebangkrutan perusahaan, dan penundaan pajak bisnis dinilai memiliki efek domino (multiplier effect) yang buruk dalam jangka panjang maupun dalam mengatasi perubahan iklim.