Di kawasan Asia, yen Jepang memimpin penguatan mata uang dari dolar AS sebesar 0,23 persen. Kemudian, diikuti dolar Hong Kong 0,02 persen.
Sementara mata uang Asia lain justru terkapar di zona merah. Yuan China melemah 0,39 persen, won Korea Selatan minus 0,21 persen, ringgit Malaysia minus 0,01 persen, dolar Singapura minus 0,1 persen, baht Thailand minus 0,01 persen, dan peso Filipina minus 0,05 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, pelaku pasar juga khawatir pelonggaran penutupan akses wilayah (lockdown) di beberapa negara justru menambah kasus positif baru. Begitu pula dengan ketegangan antara AS dan China yang bisa memicu perang dagang baru antar kedua negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu.
Namun, beberapa sentimen lain justru diperkirakan bisa menopang laju mata uang. Misalnya, harga minyak mentah WTI terus meningkat ke kisaran di atas US$20 per barel setelah beberapa waktu lalu terkontraksi.
[Gambas:Video CNN]
Hal ini karena pemangkasan produksi sudah dimulai dan mengindikasikan pemulihan permintaan (demand). Selain itu, kebijakan pelonggaran lockdown diharapkan dapat membuat aktivitas industri dan perdagangan kembali normal, sehingga bisa memulihkan perekonomian.
"Dengan sentimen yang tarik menarik ini, rupiah mungkin bergerak tidak terlalu jauh dari penutupan kemarin. Potensinya di kisaran Rp15 ribu sampai Rp15.150 per dolar AS," kata Ariston kepada CNNIndonesia.com, Rabu (6/5).
"Dengan sentimen yang tarik menarik ini, rupiah mungkin bergerak tidak terlalu jauh dari penutupan kemarin. Potensinya di kisaran Rp15 ribu sampai Rp15.150 per dolar AS," kata Ariston kepada CNNIndonesia.com, Rabu (6/5).
(uli/agt)