BPS mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal I 2020 anjlok ke level 2,97 persen. Padahal, penyebaran virus corona baru beberapa bulan terjadi.
Pertumbuhan tersebut merupakan yang terburuk sejak era Presiden Gus Dur. Realisasi pertumbuhan tersebut membuat, pemerintah terus meningkatkan kewaspadaan atas dampak tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menteri dua periode Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini menyebut pemerintah terus memantau pergerakan global mau pun domestik dari dampak yang ditimbulkan virus corona.
Sebab, pandemi tersebut telah mengakibatkan kepanikan investor. Kepanikan tercermin dari derasnya arus modal keluar selama Januari-Maret lalu.
[Gambas:Video CNN]
Sri Mulyani bilang aliran modal sebesar Rp145 triliun kabur selama periode 3 bulan tersebut akibat virus corona. Jumlah tersebut melebihi capital outflow pada saat krisis ekonomi 2008 yang sebesar Rp69,9 triliun.
Jumlah tersebut juga lebih besar dibanding krisis 2013 yang hanya mengakibatkan arus modal keluar Rp36 triliun.
"Januari sampai Maret 2020 ini aliran modal asing yang keluar Rp145 triliun adalah dua kali lipat dibandingkan guncangan krisis global," kata Ani.
Untuk itu, ia menyebut pemerintah menyiapkan kebijakan yang melibatkan lembaga keuangan seperti Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Kebijakan bersama yang dihasilkan diharapkan dapat meringankan beban masyarakat dan pelaku usaha di tengah pandemi virus corona.
"Policy mix baik sisi fiskal atau moneter dilakukan dalam rangka memberikan bantalan dan moderasi dampak negatif akibat covid-19," pungkasnya (wel/agt)