"Stimulus sekarang itu kan bagi-bagi duit (bantuan langsung), itu menolong menaikkan konsumsi, tapi ini tidak menolong pemantapan ekonomi jangka panjang. Nah saya mengusulkan stimulus yang paling tepat adalah sektor ekonomi yang basisnya di rakyat," ujarnya dalam sesi webinar bersama Indef, Selasa (12/5),
Ia juga mengingatkan pentingnya validitas data dalam menentukan kebijakan pemberian stimulus. Menurutnya, harus ada data mengenai kondisi pelaku ekonom,
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyebabnya, menurut Tanri, tim pengarah Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 didominasi oleh para menteri ketimbang akademisi. Hal ini membuat pegangan covid-19 di Indonesia menjadi birokratis dan tak bisa bergerak cepat.
"Proses manajemen berjalan, tapi saya nilai sendiri tak efektif. Ada buktinya, kurvanya meningkat, padahal presiden mengatakan harus turun Mei ini. Penurunan kurva kan sesuatu yang tak bisa dipaksakan, yang bisa kita lakukan adalah perbaiki manajemennya," sebutnya.
Ia menyebut, misalnya, pemerintah tak secara tegas memberi informasi kepada warga terkait apa rencana yang akan dijalankan dan apa yang perlu dilakukan warga untuk menekan penyebaran virus corona.
"Komunikasinya sangat monoton sekali, harusnya lebih banyak disampaikan ke masyarakat, tapi yang paling penting langkah-langkah apa yang akan diambil," terangnya.
"Ada orang-orang ini yang bisa jadi resource dan bisa jadi bagian dari tim komite ini. Bukan posisi, karena itu tend to be birocratic," imbuhnya.
[Gambas:Video CNN]
(hrf/age)