Namun aktivitas tersebut dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat. Kepala negara menyatakan dalam beraktivitas itu, masyarakat harus menyesuaikan diri dan hidup berdampingan dengan Covid-19.
"Kebutuhan kita sudah pasti berubah untuk mengatasi risiko wabah ini. Itu keniscayaan, itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai new normal atau tatanan kehidupan baru," kata Jokowi belum lama ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Protokol kami susun, paling lambat pekan depan keluar dan akan berlaku kepada seluruh hotel dan restoran. Kami membuat standar minimum, nantinya masing-masing pihak bisa mengembangkan," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.
Ia menjelaskan gambaran umum protokol tersebut mengatur aspek konsumen dan karyawan sesuai dengan petunjuk pencegahan penyebaran virus corona. Salah satu contoh protokol, konsumen dan karyawan wajib melakukan pengecekan suhu badan dan menggunakan masker.
Yusran belum dapat mendetailkan protokol tersebut lantaran masih dimatangkan oleh PHRI. "Tapi itu standar minimum, nanti masing-masing hotel akan mengembangkan, dan justru mereka akan berkompetisi dalam mengembangkan SOP tersebut, sebagai branding hotel dan restoran," paparnya.
Namun demikian, tak serta merta protokol itu diimplementasikan seluruh hotel dan restoran usai disahkan nantinya. Sebab, pemberlakuan protokol the new normal itu akan disesuaikan pada dua hal.
Pertama, kebijakan masing-masing pemerintah daerah. Pembukaan sektor perhotelan dan restoran akan diprioritaskan pada wilayah zona hijau Covid-19, atau wilayah yang kurva tambahan pasien positif Covid-19 melandai.
Seperti diketahui, pariwisata dan pendukungnya merupakan sektor pertama yang terdampak Covid-19. Sektor tersebut merupakan yang terpuruk paling dalam lantaran aktivitasnya lumpuh total akibat virus corona.
Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) sektor akomodasi dan makanan minuman hanya tumbuh 1,5 persen di kuartal I 2020, turun dari periode yang sama tahun lalu 5,87 persen. Rinciannya, akomodasi minus 4,55 persen dibandingkan tumbuh 2,98 persen tahun lalu.
Sedangkan, makanan dan minuman tumbuh 3,52 persen, melambat dari tahun lalu 6,59 persen. Kontribusi sektor ini kepada Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 2,80 persen. Tak heran jika kinerja sektor tersebut lesu.
Kondisi ini, berlangsung kurang lebih sejak Maret 2020 lalu atau tiga bulan. Ia menuturkan sektor perhotelan dan restoran sangat terpukul dari sisi penurunan pesanan Meeting, Incentive, Convention, Exhibition (MICE). Pasalnya, kontribusi layanan ini mencapai kurang lebih 30 persen-40 persen dari okupansi hotel dan restoran.
"Sedangkan dari leisure, kami ada Lebaran, Natal, tahun baru, dan libur sekolah. Momentum Lebaran sudah pasti hilang, libur sekolah kami belum tahu karena waktunya sangat dekat di Juni-Juli, jadi kami belum tahu. Ekspektasi kami akhir tahun semoga Covid-19 selesai sehingga orang mau pergi," paparnya.
Menanggapi rencana the new normal tersebut, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira menilai saat ini belum tepat untuk membuka kembali aktivitas masyarakat pada umumnya, maupun sektor pariwisata dan pendukungnya secara khusus.
Menurutnya, terdapat dua hal yang harus dipenuhi sebelum menggerakkan kembali sektor pariwisata dan pendukungnya. Pertama, kurva tambahan pasien positif Covid-19 mulai landai atau turun pada wilayah yang akan dibuka kembali aktivitasnya.
Kedua, pemerintah harus memastikan protokol kesehatan berjalan dengan ketat pada sektor ini.
"Protokol kesehatan harus siap, sebelum menerima kunjungan baru, karena kalau belum siap dan masih banyak positif Covid-19 ini akan mempengaruhi kepercayaan dari wisatawan yang akan kunjung serta brand pariwisata itu sendiri, " ucapnya.
"Sedangkan ongkos pemulihan itu besar. Saran saya dengan menggandeng juga platform online seperti Traveloka untuk memastikan semua hotel dan restoran menerapkan protokol kesehatan," ujarnya.
Senada, Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menyatakan jika pemerintah ingin membuka kembali aktivitas, maka sebaiknya mempertimbangkan kurva tambahan pasien positif. Pemerintah, kata dia, hendaknya berkaca dari pengalaman negara lain yang sudah terlebih dulu melonggarkan lockdown.
"Misalnya Jepang ada prasyarat yang dilalui oleh pemerintah sebelum melalui reopening salah satunya tidak ada kasus Covid-19 baru melebihi 20 orang," ucapnya.
Lihat juga:Syarat Boleh Terbang dari Lion Air |
"Contohnya sejumlah negara bagian di AS, kalau melihat data penjualan dan kunjungan restoran setelah proses dibuka justru belum mengalami perbaikan. Artinya, meskipun di AS oke kami reopening tapi secara psikologis masyarakat masih tahan melakukan aktivitas berlebihan di luar," ujarnya.
Ia memprediksi pola serupa terjadi di Indonesia. Oleh sebab itu, ia mengimbau pelaku usaha perhotelan dan restoran untuk menyesuaikan diri dengan protokol kesehatan sehingga pengunjung lebih nyaman untuk berwisata.
Ia juga berharap protokol kesehatan ini tidak hanya dipatuhi oleh hotel berbintang saja namun seluruh jasa perhotelan dan restoran. Dengan demikian, masyarakat memiliki rasa percaya dan aman untuk berwisata.
"Memang agak sulit terkait pariwisata akan rebound akhir tahun nanti. Sebab, meskipun dipaksakan dibuka orang tidak serta merta melakukan kunjungan pariwisata," katanya.