Berdasarkan data yang dirilis oleh PT Infovesta Utama, reksa dana saham tercatat minus 28,46 persen hingga 27 Mei 2020. Begitu pula dengan reksa dana campuran yang terkoreksi 15,45 persen.
Artinya, masyarakat yang memiliki investasi berupa reksa dana saham dan campuran merugi. Pasalnya, uang yang diinvestasikan berkurang dari modal yang ditempatkan pada awal registrasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kekhawatiran terhadap virus corona itu sendiri bukan hanya terkait dengan penyebaran virusnya saja, namun juga terkait dengan dampak ekonomi yang mungkin timbul," terang Edbert.
Ia bilang kebijakan pembatasan sosial di ruang publik akibat wabah corona memberikan dampak negatif terhadap ekonomi. Berbagai macam sektor usaha terganggu, sehingga aktivitas ekonomi hampir tak bergerak.
Secara makro, Edbert bilang dampaknya sudah terlihat dari realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal I 2020 yang hanya 2,97 persen. Angkanya jauh dari sebelum-sebelumnya yang berada di area 4 persen-5 persen.
"Jadi dari virus corona ini dampaknya melebar," imbuh Edbert.
Makanya, transaksi di pasar saham pun belum kembali menggeliat seperti sebelum pandemi. RTI Infokom mencatat IHSG sejak awal tahun hingga saat ini anjlok hingga 24,54 persen.
Menurutnya, sentimen penyebaran virus corona akan terus menghantui pergerakan IHSG. Untuk itu, Edbert masih pesimistis indeks akan kembali melejit ke area 6.000 dalam waktu dekat.
Bila situasinya seperti ini, maka jangan harap reksa dana saham juga akan membaik dalam jangka pendek. Pasalnya, pergerakan reksa dana saham akan mengikuti IHSG, begitu juga dengan reksa dana campuran.
"Jadi kemungkinan minus masih tetap ada selama belum ada perkembangan signifikan dari sentimen penyebaran virus corona," terang Edbert.
Untuk masyarakat yang mengharapkan return jangka panjang, Edbert menyatakan membeli reksa dana saham dan campuran pada situasi seperti ini justru akan menguntungkan karena modal yang dikeluarkan tak banyak.
Namun, masyarakat yang mengharapkan return dalam jangka pendek sebaiknya menghindari dulu reksa dana saham dan campuran. Masalahnya, kinerja saham masih akan melemah hingga beberapa waktu ke depan.
"Jangka panjang di sini maksudnya di atas lima tahun. Untuk jangka panjang menarik karena kan sedang tertekan, sedang murah," pungkas Edbert.
[Gambas:Video CNN]
(aud/sfr)