Dilansir dari AFP, Senin (1/6), paket bantuan ekonomi itu merupakan stimulus terbesar yang digelontorkan pemerintah Negeri Gajah Putih.
Bila dirinci, sekitar Rp253,4 triliun dialokasi untuk membantu petani dan pekerja informal lain seperti pedagang kaki lima, tukang pijat dan pelayan bar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kelompok oposisi mengkritik pemerintah kurang transparan dalam menjelaskan bagaimana dana tersebut akan dialokasikan. Risikonya, uang tersebut bisa jadi digunakan untuk keuntungan kelompok tertentu bukan masyarakat.
"Saya khawatir sesuatu yang seharusnya digunakan untuk stimulus ekonomi akan berakhir menjadi proyek yang mengarahkan ke tindakan korupsi," ujar anggota parlemen dari partai oposisi Move Forward Party Pijan Chaopattanapong.
Tahun ini, perekonomian terbesar kedua di Asia Tenggara itu diprediksi merosot sekitar 6 hingga 7 persen di tengah pandemi.
Selama beberapa pekan terakhir, laju kasus corona kian melambat selama beberapa pekan terakhir di Thailand. Pada Minggu (31/5), tercatat 4 kasus baru yang merupakan kasus impor. Secara total, terdapat sekitar 3 ribu kasus corona di Thailand, di mana 57 di antaranya meninggal.
Sebagai informasi, pemberian stimulus ekonomi juga diambil sejumlah negara untuk memulihkan ekonomi dari pandemi virus corona. Di Indonesia, misalnya, pemerintah menyiapkan Rp641,17 triliun dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).
[Gambas:Video CNN]
(afp/sfr)