Dia mencatat dari Rp405,1 triliun anggaran untuk penanganan pandemi corona, Rp152,15 triliun di antaranya digunakan untuk menyuntik BUMN. Padahal awalnya pemerintah menyebut dana itu digunakan untuk stimulus UMKM dan dunia usaha.
"Di belakang itu adalah menutup borok-borok yang telah dilakukan pemerintah selama ini lewat BUMN. Bayangkan kalau BUMN gagal bayar, tidak bisa melanjutkan proyek-proyek yang dibebankan kepada mereka, hancur lebur," kata Faisal dalam webinar yang diselenggarakan Kahmipreneur, Senin (1/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Faisal menduga sebagian dana suntikan itu dipakai untuk membayar utang BUMN. Dia mencontohkan kucuran Rp650 miliar untuk Perumnas.
Jumlahnya sama dengan utang yang jatuh tempo dari perusahaan perumahan pelat merah itu. "Disiplin fiskal kita jadi kacau. Jadi untuk menopang proyek-proyek strategis nasional, tidak hanya APBN, tapi juga dibebankan ke BUMN melebihi dari kemampuannya," ucapnya.
Sebab menurutnya banyak sektor lain yang lebih butuh perhatian karena dampak pandemi. Salah satunya, sektor tanaman pangan yang pertumbuhannya anjlok -10,31 persen.
"Saya ingin bertanya kepada kita semua, negara kita mau dibawa ke mana? Berikutnya adalah sebetulnya ini semua tidak ada hubungannya dengan covid," ucapnya.
[Gambas:Video CNN]
(dhf/agt)