Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Reza Yamora menilai pertumbuhan negatif dipicu oleh dampak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dilakukan di berbagai daerah sejak beberapa bulan terakhir.
"Kuartal II 2020 memang ekspektasi negatif, enggak tahu di mana posisi official-nya. Kalau saya lihat di pasar, ekspektasi market itu negatif 3-4 persen di kuartal II. Menurut saya, itu angka cukup konsisten dengan apa yang kami lihat dari data kami," ungkapnya lewat video conference pada Rabu (10/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia bilang, saat ini pemerintah berfokus pada pemulihan ekonomi domestik dengan menjaga daya beli masyarakat. PSBB Jakarta yang akan dilonggarkan minggu depan dinilainya akan menjadi titik balik (rebound) ekonomi nasional secara bertahap.
Ia pun memperingatkan potensi infeksi virus corona gelombang kedua ketika PSBB dilonggarkan. "(Kalau terjadi), gelombang kedua biasanya hampir langsung terjadi begitu PSBB dilonggarkan, mudah-mudahan besarnya gelombang kedua bisa dalam pengawasan pemerintah," terangnya.
Lihat juga:Jepang Masuk ke Jurang Resesi Ekonomi |
"Kalau kami lihat itu (pertumbuhan ekonomi kuartal I 2020) terendah sejak kuartal I tahun 2001," ujar Kepala BPS Suhariyanto melalui video conference, Selasa (5/5).
Namun demikian, ia menuturkan angka tersebut tidak dapat dibandingkan. Pasalnya, kondisi saat ini juga berbeda dibandingkan 19 tahun silam.
Saat ini, lanjutnya, kondisi ekonomi dipenuhi ketidakpastian akibat pandemi virus corona (Covid-19).
[Gambas:Video CNN]
"Menurut saya tidak bisa dibandingkan seperti itu karena situasi yang kita hadapi sekarang beda, diliputi ketidakpastian. Sudah banyak dilakukan upaya tapi kami tidak tahu sampai kapan covid-19 ini bisa berlalu," katanya.
Untuk diketahui, pertumbuhan ekonomi kuartal I 2020 jauh lebih rendah dibandingkan kuartal I 2019 sebesar 5,07 persen. Angka tersebut merosot dibandingkan pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2019 yakni 4,97 persen.