Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati pernah menjelaskan sejumlah alasan perseroan menahan harga BBM pada posisi saat ini. Ia menuturkan permintaan BBM turun tajam di tengah pandemi virus corona. Secara nasional, permintaan BBM turun hingga 25 persen pada April lalu karena kebijakan pembatasan sosial. Bahkan di kota-kota besar, penurunan permintaan lebih dari 50 persen.
Penurunan konsumsi BBM masih berlanjut hingga menjelang lebaran. Konsumsi BBM jenis gasoline yakni Premium, Pertalite, dan Pertamax Series merosot sekitar 27,5 persen atau sekitar 67,7 kiloliter (kl) per hari dibandingkan kondisi normal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Jokowi Disomasi karena Harga BBM Tidak Turun |
Laju rupiah mulai menguat pada April, hingga akhirnya berada di posisi Rp13.925 per dolar AS pada perdagangan Rabu (11/6) sore.
Kendati belum memangkas harga, perseroan menawarkan diskon berupa uang kembali (cashback) bagi pelanggan Pertamax dan Dex series sebesar 30 persen. Diskon diberikan bagi pelanggan yang bertransaksi secara non tunai menggunakan aplikasi milik BUMN selama periode 31 Mei-16 Juni 2019.
Sementara itu, Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan pemerintah masih mencermati harga minyak global. Menurutnya, harga minyak global biasanya akan balik arah menguat (rebound) dalam kurun waktu tiga bulan dalam periode krisis.
Ia mencontohkan krisis 2008 harga minyak anjlok sampai US$38 per barel namun mampu kembali stabil di US$70 per barel. Berkaca dari contoh tersebut, ia memprediksi harga minyak mentah akan kembali menguat.
"Kami perkirakan harga akan rebound pada kisaran US$40 per barel di akhir tahun," katanya.
Prediksi Arifin tidak meleset. Pada April lalu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei sempat anjlok ke posisi minus US$37,63 per barel untuk pertama kalinya dalam sejarah. Serupa, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni anjlok 24 persen ke posisi US$19,33 per barel yang merupakan posisi terendah sejak Februari 2002.
Namun, harga dua minyak mentah acuan itu berangsur menguat. Pada perdagangan Rabu (10/6), minyak Brent untuk pengiriman Agustus berada di posisi US$41,73 per barel di London ICE Futures Exchange. Sementara minyak WTI untuk pengiriman Juli di posisi US$39,60 per barel di New York Mercantile Exchange.
Penguatan harga minyak mentah dunia ditopang pemangkasan produksi oleh OPEC+. Bahkan, organisasi itu sepakat memperpanjang pemangkasan produksi 9,7 juta bph hingga Juli. Padahal sebelumnya, OPEC+ berencana menurunkan pemangkasan produksi menjadi 7,7 juta bph pada Juli-Desember dan 5,8 juta bph di Januari-April 2021.
Koalisi tersebut antara lain beranggotakan Marwan Batubara (pengamat energi), Hatta Taliwang (aktivis yang pernah tersangkut kasus dugaan makar), dan Iwan Piliang (aktivis).
"Surat somasi sudah kami sampaikan ke Setneg kemarin pagi," kata Marwan.
Menurut mereka, masyarakat akan merugi Rp18 triliun jika pemerintah tak menurunkan harga BBM hingga akhir Juni 2020. Kerugian itu mereka hitung berdasarkan kelebihan bayar masyarakat karena harga BBM saat ini tak sesuai dengan formula yang ditetapkan pemerintah.
[Gambas:Video CNN]
(ulf/sfr)