Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani berharap perusahaan tetap diberikan kebebasan untuk menyesuaikan diri dan mengatur mobilitas pekerjanya sesuai dengan kebutuhan dan perhitungan perusahaan.
"Jangan dipaksakan untuk menerapkan sesuai aturan ini, karena belum tentu sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan belum tentu nyaman bagi karyawan," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (15/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seminggu terakhir, lanjutnya, sebagian besar perusahaan masih menerapkan metode kerja PSBB, yakni dengan mengoptimalkan bekerja dari rumah (WFH) apabila memungkinkan. Selain itu, sistem shift bekerja dari kantor (WFO) secara bergantian setiap harinya. Menurutnya, sistem ini berjalan cukup efektif bagi perusahaan.
"Selama surat edaran yang baru tidak memaksakan usulan yang di diberikan dan perusahaan diberikan ruang gerak untuk menyesuaikan sesuai dengan kebutuhan perusahaan, kami rasa tidak akan menjadi beban bagi perusahaan," katanya.
Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif Apindo Danang Girindrawardana mengatakan pengusaha tak memiliki keberatan untuk menerapkan sistem shift. Namun, pengaturan sistem jam kerja diserahkan kepada masing-masing perusahaan. Oleh sebab itu, ia menilai aturan dari Gugus Tugas itu hendaknya menjadi panduan, bukan paksaan.
"Jadi tidak harus persis dengan pola yang dikeluarkan BNPB, karena kasus di masing-masing industri berbeda-beda," ucapnya.
Ia mengatakan sistem shift selama delapan jam bisa diimplementasikan pada pegawai yang bekerja di kantor. Namun, hal tersebut sulit dilakukan bagi pekerja di sektor manufaktur.
Gugus Tugas sendiri memaparkan tahap pertama atau gelombang yang pertama akan memulai pekerjaan mulai 07.00 sampai 07.30 WIB. Gelombang pertama diharapkan bisa mengakhiri pekerjaannya pukul 15.00 atau 15.30 WIB.
Sementara gelombang yang kedua, diharapkan mulai bekerja pada pukul 10.00 sampai 10.30 WIB, sehingga diharapkan akan mengakhiri jam kerja pada 18.00 dan 18.30 WIB
(ulf/age)