Direktur Metrologi Ditjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan Rusmin Amin menyatakan permasalahan tersebut ditemukan pada lebih dari 14,3 juta unit stand meter. Artinya, ada potensi 14,3 juta rumah tangga (RT) yang lebih atau kurang bayar tagihan listrik akibat tak akuratnya meter kWh yang digunakan.
"Kemendag sudah kirim surat ke Menteri BUMN, jumlah meter kWh sudah habis masa teranya ada 14 jutaan. Ini cukup banyak jumlahnya dan ini cukup tidak memberi kepastian kepada pelanggan," ucapnya lewat video conference pada Senin (15/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pihaknya juga sempat mengadakan uji sample pada 2011 di PLN wilayah Jawa Barat dan Banten, dan temuannya sebesar 62 persen kWh meter di yang dites tak lulus uji atau salah catat.
Dari 62 persen kWh meter salah catat itu, sebanyak 43,2 persen menunjukkan lebih bayar pelanggan dengan rata-rata kerugian konsumen sebesar 15,84 persen. Sementara 56,8 persen sisanya menunjukkan kurang bayar, dalam hal ini PLN dirugikan dengan rata-rata sebesar 17,46 dari total tagihan.
"Karena banyaknya aduan di daerah, kami pun melakukan survei, jumlahnya satu daerah bisa raturan ribu yang teranya sudah habis. Coba bayangkan kerugiannya kalau dikonversi uang, bayangkan nilainya berapa," tambahnya.
Sejumlah pelanggan PLN mengeluh belakangan ini. Keluhan mereka sampaikan terkait pembengkakan tagihan listrik.
Keluhan tersebut salah satunya disampaikan anggota DPR sekaligus Wakil Ketua Partai Gerindra Fadli Zon. Bahkan, ia menanyakan hal tersebut langsung ke PLN melalui akun Twitter pribadinya, @fadlizon.
"Memang, banyak keluhan tagihan listrik melonjak. Saya juga mengalami yang sama. @pln_123 harus transparan atas keluhan2 di masyarakat. Kenapa tagihan listrik makin melonjak? Ada privatisasi?" tulis Fadli.
Lihat juga:PLN Rugi Rp38,87 T pada Kuartal I 2020 |
Namun, keluhan tersebut ditanggapi santai oleh PLN. Menurut mereka kenaikan tagihan disebabkan oleh faktor work from home yang diterapkan selama pandemi corona. Model kerja tersebut kata mereka, telah mendongkrak konsumsi listrik sehingga membuat tagihannya naik.
Faktor lain, momen bulan puasa yang juga mendongkrak konsumsi listrik. Sedangkan faktor lain berkaitan dengan perubahan sistem catat meter kWH penggunaan listrik dari sebelumnya rata-rata menjadi riil pada bulan pemakaian.