"Jadi kalau masalah pendapatan, revenue, penjualan memang terjadi penurunan. Kami sudah prediksi bahwa sampai dengan akhir tahun itu akan terjadi secara volume penurunan itu minimal sekitar 25 persen," ungkapnya dalam diskusi virtual, Senin (15/6).
Selain dari penurunan aktivitas masyarakat, Nicke mengatakan Pertamina juga akan mendapatkan pukulan kinerja dari pelemahan harga minyak mentah. Masalah tersebut membuat produksi hulu Pertamina merugi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Banyak yang salah menafsirkan bahwa itu adalah PMN, suntikan modal. Bukan. Itu adalah kompensasi yang memang harus diberikan oleh pemerintah untuk 2017-2018 dan dibayarkan kemarin. Alhamdulillah itu juga menambah cash flow kami karena luar biasa dampak Covid-19 ini," tuturnya.
Nicke menyampaikan saat ini Pertamina tetap berusaha untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat misalnya membiarkan SPBU yang di kelola perusahaan tetap beroperasi meski permintaan BBM drop.
Di samping itu Pertamina juga memastikan kebutuhan gas untuk industri dapat diperoleh dengan harga yang murah seperti yang telah diamanatkan pemerintah.
"Alhamdulillah kami juga masih bisa memberikan harga yang baik kepada industri sesuai dengan regulasi yang ada. Sehingga kita harapkan industri bisa mulai menggeliat dan berproduksi kembali, menciptakan lapangan kerja dan roda perekonomian mulai tumbuh, pajak juga mulai meningkat," tandas Nicke. (hrf/agt)