Ketua Umum Aprindo Roy N Mandey mengatakan lambatnya pemulihan bisnis ritel tak lepas dari kondisi daya beli masyarakat. Jelang new normal, ia pesimistis warga akan langsung membelanjakan uangnya untuk barang-barang konsumtif.
Terlebih, banyak sektor pekerjaan tutup yang berdampak pada ribuan tenaga kerja dirumahkan selama pandemi Covid-19.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Mal di Depok Buka Hari Ini |
"Semester II memang akan kelihatan geliatnya, walaupun tidak sekaligus. Tapi harus optimis karena masih ada sesi di akhir tahun, natal dan tahun baru. Diharapkan pada saat itu aktivitas belanja sudah mulai normal," ucapnya.
Roy menuturkan, pertumbuhan ritel nasional tahun ini diproyeksikan hanya mencapai 3 sampai 3,5 persen, atau merosot dibandingkan tahun lalu yang tumbuh 8 persen.
Ia menengarai sekitar 40 ribu gerai dari 600 anggota Aprindo yang sempat berhenti beroperasi. Hal ini otomatis membuat penjualan dan omzet ritel juga menurun.
Ia berharap pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) membuat orang kembali berbelanja ke ritel modern sehingga pertumbuhan penjualan tidak menjadi negatif.
Terlebih, daerah-daerah sekitar Jakarta sudah melakukan pelonggaran PSBB dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.
Roy juga memastikan anggota dalam Aprindo telah menyiapkan berbagai strategi untuk menggenjot penjualan di sisa tahun 2020 ini.
"Khususnya yang di Jakarta. Karena kita sudah masuk PSBB transisi menuju new normal yang aman sehat. Tak hanya bagi konsumen tapi juga bagi karyawan. Kami memang menjaga protokol kesehatan ini dapat dilakukan dan orang antusias berbelanja," pungkasnya.
(hrf/sfr)