Realisasi defisit tersebut merupakan yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir pada periode yang sama. Tercatat, defisit hanya Rp93,5 triliun atau 0,63 persen dari PDB pada 31 Mei 2018. Lalu, defisit melebar menjadi Rp125,8 triliun atau 0,79 persen dari PDB pada 31 Mei 2019.
"Kenaikan defisit dibandingkan tahun lalu terjadi karena semua penerimaan negara mengalami kontraksi," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam konferensi pers, Selasa (16/6)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, belanja negara tercatat sebesar Rp843,9 triliun atau 32,3 persen dari alokasi APBN 2020 perubahan, Rp2.613,8 triliun. Dengan realisasi tersebut, belanja negara hingga akhir Mei turun dari periode yang sama tahun lalu sebesar 1,4 persen.
Ia merinci, belanja Kementerian/Lembaga (K/L) telah terealisasi Rp270,4 triliun atau merosot 6,2 persen secara tahunan, Sementara, belanja non K/L naik 10,1 persen menjadi Rp267 triliun.
Lihat juga:Anak Buah SMI Bicara Jaminan ORI |
Namun demikian, khusus penyaluran dana desa melonjak 41,3 persen menjadi Rp28,9 triliun. Hal ini tak lepas dari pemberian bantuan langsung tunai untuk meredam dampak pandemi.
Lebih lanjut, keseimbangan primer minus Rp33,9 triliun hingga 31 Mei 2020 atau bertolak belakang dengan posisi tahun lalu yang masih positif Rp1,3 triliun.
Sementara, pembiayaan anggaran tercatat sebesar Rp356,1 triliun. Angkanya melonjak lebih dari dua kali lipat periode yang sama tahun lalu Rp159,9 triliun.
[Gambas:Video CNN]
(ulf/sfr)