Direktur Utama BRI Sunarso menyebut pihaknya telah ditawari utang oleh 13 bank asing. Utang tersebut sudah siap cair dengan bunga 1,9 persen.
"Kalau (BRI) tidak dapat bantuan likuiditas karena enggak memenuhi syarat layak dibantu, saya bikin utang ke luar negeri, 13 bank sudah komit untuk membantu BRI US$1 miliar. Ini bisa tarik kapan saja dengan suku bunga dalam dolar 1,9 persen, itu yang akan dijadikan cadangan," katanya lewat video conference pada Selasa (16/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bank peserta harus terlebih dahulu memaksimalkan sumber likuiditasnya di Pasar Uang Antar Bank (PUAB) dan Repo BI. Kalau hal itu dilakukan, namun posisi Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM) turun hingga batas minimal 6 persen dan bank masih dalam kondisi sehat, maka mereka boleh mengajukan penempatan dana pemerintah.
Sunarso pesimis akan menerima bantuan likuiditas. Pasalnya, untuk bank raksasa seperti BRI yang memiliki aset sebesar Rp1.400 triliun, akan sulit bagi pihaknya menyentuh kekeringan likuiditas secondary reserve hingga 6 persen.
"Sebagai seorang dirut apa akan tega membiarkan bank sistemik menyisakan secondary reserve 6 persen? Pasti jantung saya engga kuat dan harus menjaga di atas 6 persen akibatnya kami tidak akan dapat likuiditas itu," jelasnya.
Ia menambahkan, dari 11,7 juta debitur Bank Himbara yang memerlukan restrukturisasi, ada 9,6 juta yang merupakan nasabah BRI. Dalam menyalurkan fasilitas restrukturisasi, likuiditas perbankan diakuinya terganggu akibat penundaan penerimaan kredit pinjaman.
Tercatat hingga 31 Maret 2020, realisasi restrukturisasi kredit telah diberikan kepada 2,63 juta nasabah dengan total baki debet sebesar Rp160,5 triliun. 1,28 juta di anataranya merupakan nasabah usaha mikro, nasabah Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebanyak 1,23 juta dan diikuti oleh pelaku ritel sebanyak 90,6 ribu nasabah.