Pertamina Akan Lepas 2 Subholding Melantai di Bursa Saham

CNN Indonesia | Selasa, 30/06/2020 07:21 WIB
Sejumlah pengendara saat mengisi bahan bakar di SPBU Coco kawasan Kuningan, Jakarta, Selasa, 20 Maret 2018. Pemerintah kembali meneruskan Program BBM Satu Harga di tahun 2018 ini, Melalui program BBM satu harga, pemerintah bersama Pertamina berkomitmen untuk terus menambah jumlah lembaga penyalur BBM di seluruh Indonesia. Ini merupakan salah satu agenda prioritas pemerintahan Jokowi-JK yang termasuk dalam Nawacita yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. 
Sesuai roadmap BBM satu harga, pada tahun 2018 akan didirikan 73 lembaga penyalur terdiri dari 67 lembaga penyalur PT. Pertamina (Persero) dan enam lembaga penyalur PT. AKR Corporindo Tbk. SPBU BBM satu harga saat ini sudah ke-58 dan 59 yang telah beroperasi secara nasional.CNN Indonesia/Andry Novelino Pertamina berenca melepas dua subholding mereka untuk melantai di bursa saham. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Pertamina (Persero) mengkaji untuk melepas dua subholding mereka ke lantai Bursa Efek Indonesia (BEI). Dua sub holding tersebut, yakni pelayaran (shipping) dan energi terbarukan (reneweble energy).

"Kami melihat ada sub holding shipping dan reneweble energy, ini sedang kami kaji," ungkap Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, Senin (29/6).

Namun, ia belum bisa memastikan kapan aksi korporasi itu akan direalisasikan. Perusahaan masih melihat kondisi pasar saham yang sedang bergejolak akibat pandemi virus corona.


"Kami intinya belum mengambil keputusan lebih jauh. Tentu kami butuh kajian kembali untuk melakukan ini," kata Nicke.

Ia menambahkan melepas saham ke publik atau penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) bukanlah satu-satunya upaya perusahaan dalam mencari pendanaan. Maka itu, manajemen akan mengkaji rencana IPO secara hati-hati dan tidak terburu-buru.

"Kami harus lakukan dengan matang dan ini semua keputusan pemegang saham. Jangan sampai nanti keputusan muncul di publik tidak bagus juga sebelum ada kajian yang optimal," jelasnya.

Nicke menyatakan perusahaan memang sedang membutuhkan belanja modal (capital expenditure/capex) US$133 miliar untuk periode 2020 hingga 2026 mendatang. Manajemen akan mencari dana dari berbagai sumber.

[Gambas:Video CNN]

Ia bilang sekitar 47 persen belanja modal akan diusahakan untuk bisa dipenuhi dari dana internal. Kemudian, 28 persen berasal dari dana eksternal, 15 persen dari equity financing, dan 10 persen dari project financing.

"Pertamina akan memerlukan 28 persen pendanaan dari eksternal dan project financing atau sekitar US$49 miliar hingga tahun 2026," kata Nicke.

Sebelumnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir memberikan tugas khusus kepada Nicke untuk membawa subholding perusahaan ke lantai Bursa. Tugas ini diharapkan bisa terealisasi dalam waktu dua tahun ke depan.

"Ke depan kami mau dalam dua tahun ini subholding-nya (Pertamina) bisa go public. Target Bu Nicke harus bisa go public-kan satu, dua subholding," ujar Erick.

Diketahui, Pertamina merupakan holding BUMN sektor migas. Perusahaan menaungi sejumlah subholding, yaitu subholding upstream (hulu); refinery and petrochemical (pengolahan); commercial and trading (pemasaran), power and new and renewable energy (energi baru dan terbarukan), shipping company, dan gas. Salah satu subholding perseroan yang telah melantai adalah subholding gas PT PGN (Persero).

 

(aud/agt)