Pertamina Buka Alasan Pisah dengan Aramco di Kilang Cilacap

CNN Indonesia | Senin, 29/06/2020 17:25 WIB
Lansekap area kilang terlihat dari 'rooftop' fasilitas Residuel Fluid Catalytic Cracker (RFCC) di Kompleks Kilang RU IV Lomanis, Cilacap, Jateng, Senin (14/9). Proyek pembangunan RFCC ini,telah menyerap tenaga kerja lokal sebanyak 8.000 pekerja dan proyek Refinery Development Unit (RDMP) akan membutuhkan 10 ribu pekerja tambahan hingga tahun 2021. (ANTARA FOTO/Idhad Zakaria). Pertamina mengungkapkan alasan batalnya kerja sama dengan Saudi Aramco dalam proyek RDMP Kilang Cilacap.(ANTARA FOTO/Idhad Zakaria).
Jakarta, CNN Indonesia --

PT Pertamina (Persero) mengungkapkan alasan batalnya kerja sama dengan Saudi Aramco dalam proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Cilacap.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menyampaikan pembatalan kerja sama yang sudah digagas sejak 2015 lantaran terdapat perbedaan valuasi RDMP Kilang Cilacap. Selisih valuasi dua pihak cukup besar sehingga perseroan memutuskan untuk tidak menindaklanjuti kerja sama tersebut.

"Jadi, masalahnya adalah perbedaan valuasi. Bagaimana memvaluasi, menilai eksisting Kilang Cilacap ini. Ada perbedaan harga US$1,1 miliar itu kalau dibandingkan dengan nilai buku," ujarnya di Komisi VI DPR, Senin (29/6).


Ia menuturkan perbedaan valuasi tersebut cukup berbahaya alias riskan lantaran Kilang Cilacap merupakan aset milik BUMN. Meski kerja sama itu tidak berlanjut, Nicke memastikan Kilang Cilacap tetap melakukan peningkatan kualitas produksi Bahan Bakar Minyak (BBM) dari kualitas Euro II menjadi Euro IV.

"Jadi, kami sepakat untuk tidak sepakat. Kami putus, pisah baik-baik akhir April," imbuhnya.

Saat ini, kata dia, terdapat dua investor yang telah menyatakan keseriusan mereka untuk kerja sama dengan Pertamina di Kilang Cilacap. Selain itu, sejumlah investor sedang melakukan pendekatan dengan Pertamina terkait proyek tersebut.

"Kami akan melakukan proses pemilihan lagi," tuturnya.

Sebagai pengingat, kemitraan Pertamina dan Aramco diawali dengan penandatanganan Kesepakatan Kerja Sama Pengembangan Perusahaan Patungan (Joint Venture Development Agreement/JVDA) pada Desember 2016.

Kerja sama ini merupakan kelanjutan dari Heads of Agreement (HoA) yang diteken kedua belah pihak pada November 2015 lalu, di mana kedua entitas akan membentuk perusahaan patungan, untuk pengembangan proyek selanjutnya

Dalam kesepakatan tersebut, rencananya Pertamina akan memiliki saham 55 persen dan Saudi Aramco sebesar 45 persen. Kesepakatan ini berakhir pada 30 Juni 2019. Namun, hingga memasuki 2020, pengembangan kilang Cilacap masih terkendala oleh kepastian Saudi Aramco untuk terus bermitra dengan Pertamina hingga akhirnya kerja sama itu resmi batal.

[Gambas:Video CNN]



(ulf/age)