ANALISIS

Bersandar pada China Demi Genjot Ekonomi Nasional

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Kamis, 02/07/2020 07:54 WIB
Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke Jateng, Selasa (30/6) Presiden Jokowi saat melakukan kunjungan kerja ke Batang, Jawa Tengah. (Laily Rachev - Biro Setpres).
Jakarta, CNN Indonesia --

Indonesia sepertinya semakin bersandar ke China untuk menggenjot perekonomian. Salah satu bukti, Presiden Joko Widodo (Jokowi) siap menggelar karpet merah bagi investor Negeri Tirai Bambu dengan membuka kawasan industri Batang, Jawa Tengah.

Saat berkunjung ke Batang beberapa waktu lalu, Jokowi menyebut kesiapan lahan di kawasan industri itu penting agar calon investor merasa dilayani dengan baik. Ia tak mau lagi kehilangan potensi investasi dari China seperti tahun lalu.

Jokowi bilang ada tujuh perusahaan asing yang berkomitmen untuk merelokasi pabriknya ke Indonesia. Lima dari tujuh perusahaan tersebut berasal dari China, sedangkan dua lainnya dari Korea Selatan dan Jepang.


Tak bisa dipungkiri, Indonesia memang amat membutuhkan China untuk mengerek investasi di dalam negeri. Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan China merupakan negara kedua yang paling banyak menanamkan investasinya di Indonesia per kuartal I 2020.

Jumlah investasi China di Indonesia per kuartal I 2020 tercatat sebesar US$1,28 miliar. Nilai investasi itu digunakan untuk membangun sebanyak 650 proyek.

Kalau dilihat lebih jauh, China selalu masuk dalam peringkat lima besar negara yang berinvestasi di Indonesia. Sebagai gambaran, investasi China pada 2016 sebesar US$2,7 miliar, 2017 sebesar US$3,4 miliar, 2018 sebesar US$2,4 miliar, dan 2019 sebesar 4,7 miliar.

Secara total, realisasi investasi Indonesia sepanjang kuartal I 2020 sebesar Rp210,7 triliun. Jumlah itu terdiri dari penanaman modal asing (PMA) senilai Rp98 triliun dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp112,7 triliun.

Ini baru dari sisi investasi. Dari sisi perdagangan, Indonesia juga kerap menjadikan China sebagai negara tujuan ekspor terbesar. Tanpa China, nilai ekspor Indonesia bisa semakin hancur lebur di tengah turunnya permintaan global akibat pandemi virus corona.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor nonmigas ke China sebesar US$10,39 miliar sepanjang Januari-Mei 2020. China menempati posisi pertama sebagai tujuan ekspor Indonesia.

Di bawah China, ada Amerika Serikat sebesar US$7,22 miliar, Jepang US$5,3 miliar, Singapura US$4 miliar, India US$3,98 miliar, dan Malaysia US$2,56 miliar.

Jika dilihat secara keseluruhan, neraca perdagangan Januari-Mei 2020 tercatat surplus sebesar US$4,31 miliar. Rinciannya, nilai ekspor sebesar US$64,46 miliar dan impor US$60,15 miliar.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede membenarkan bahwa dalam hal investasi, China menjadi salah satu negara yang paling berpotensi untuk berinvestasi di banyak negara, termasuk Indonesia.

"Perusahaan-perusahaan China cari negara lain di luar China yang tidak kena tarif impor dari AS (akibat perang dagang). Potensinya besar di sini," ujar Josua kepada CNNIndonesia.com, Kamis (1/7).

[Gambas:Video CNN]

Sebagai negara berkembang, ia bilang China masih berupaya untuk menanamkan investasi di berbagai negara demi menaikkan pendapatan per kapita atau pendapatan rata-rata penduduk di China. Makanya, pemerintah memiliki peluang untuk menarik investasi dari China sebesar-besarnya.

Bak gayung bersambut, Indonesia juga sedang berupaya mengerek nilai investasi. Maklum, investasi menjadi salah satu komponen yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Kalau jeblok, otomatis akan berdampak buruk untuk pertumbuhan ekonomi domestik.

"Indonesia kan sebenarnya terbuka juga untuk investasi dari negara lain. Tapi yang sedang tumbuh ini kan China, potensinya besar. Mungkin Amerika, lalu Eropa bisa investasi, tapi kan keduanya sudah jadi negara maju, mungkin tidak capek-capek lagi investasi. Potensi yang besar ya China," jelas Josua.

Kondisi ini, sambungnya, memberikan kesan bahwa Indonesia amat bergantung dengan China. Meskipun, Josua mengaku tak sepenuhnya sepakat dengan itu.

Menurut dia, ini hanya soal kesempatan mendapatkan kucuran investasi dari China ketika mereka sedang mencari tempat baru. Toh, pemerintah juga masih terbuka untuk investasi dari berbagai negara, selain China.

"Ini mau tidak mau tapi bukan berarti sepenuhnya Indonesia bergantung dengan China. Situasinya memang seperti ini, yang punya minat investasi besar ya China," terang Josua.

Hal yang sama terjadi pada ekspor. Tanpa China, ekspor Indonesia dipastikan anjlok. Apalagi, China sebagai negara dengan populasi cukup besar tentu bisa dijadikan target pasar bagi Indonesia.

Ia bilang China masih menjadi negara berkembang yang mau masuk sebagai negara maju, sehingga tingkat permintaannya terbilang masih tinggi.

"Target marketnya besar. Ini bukannya apa-apa China, tapi ya memang demikian. China lagi tumbuh, populasi besar, masih negara berkembang yang mau masuk jadi negara maju. Jadi butuh pengembangan segala macem," ucap Josua.

Tak hanya soal investasi dan ekspor, untuk tenaga kerja juga Indonesia seperti tak bisa lepas dari China. Pemerintah baru-baru ini mengizinkan masuknya 500 tenaga kerja asing (TKA) asal China ke Indonesia demi dua perusahaan di Konawe, Sulawesi Tenggara.

Josua menilai hal itu tak masalah dilakukan demi keberlangsungan perusahaan. Lagi pula, keberadaan TKA asal China justru bisa dimanfaatkan oleh Indonesia.

Di sini, Indonesia bisa belajar untuk menaikkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di dalam negeri. Apalagi, TKA China terkenal dengan produktivitasnya yang tinggi, jadi sisi inilah yang bisa dicontoh oleh SDM dalam negeri.

"Bisa transfer knowledge (pengetahuan) juga. Dengan ada TKA China, seharusnya bisa menambah kemampuan SDM di dalam negeri. Jadi ke depan kualitas bisa lebih baik," jelas Josua.  

Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke Jateng, Selasa (30/6)Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke Jateng, Selasa (30/6). (Laily Rachev - Biro Setpres).

Peluang Diambil China

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan Indonesia juga perlu hati-hati dengan China. Jika terlalu terbuka, maka lapangan pekerjaan yang seharusnya bisa ditempati oleh pekerja lokal akan tergerus diambil oleh pekerja China.

"Invetasi dari China itu kan biasanya diikuti oleh tenaga kerjanya tapi mayoritas kelas bawah. Tingkat bawah ini yang sebenarnya bisa diserap oleh tenaga kerja lokal," katanya.

Menurut Faisal, tenaga kerja Indonesia saat ini surplus di tingkat menengah ke bawah seperti buruh pabrik. Namun, perusahaan China justru banyak memboyong warganya untuk bekerja di posisi itu ketika berinvestasi di Indonesia.

"Itu harusnya porsi tenaga kerja Indonesia. Tapi kesempatan itu justru diambil sama China. Saya melihatnya selama ini seperti itu," terang Faisal.

Sementara, ia beranggapan Indonesia sebenarnya bisa mengandalkan negara lain untuk mengerek investasi di dalam negeri. Beberapa negara yang dimaksud, misalnya Singapura, Jepang dan Amerika Serikat.

"Potensi di luar China masih banyak, tinggal bagaimana bisa mengajak mereka untuk berinvestasi. Ada Jepang, Singapura, Amerika Serikat," ujar Faisal.

Namun, Faisal memang tak bisa memungkiri kalau China masih menjadi negara tujuan terbesar untuk ekspor Indonesia. Pasar China yang besar membuat permintaan China juga tinggi.

Tapi, bukan berarti Indonesia bergantung dengan China sepenuhnya. Menurut Faisal, permintaan ekspor dari negara selain China tetap ada meski jumlahnya sedikit.

"Permintaannya kecil kalau selain China, tapi kalau digabung kan jadi besar. Ada potensi bagus juga," tutur Faisal.

Berdasarkan data BPS, terdapat sejumlah negara yang menjadi tujuan ekspor Indonesia dalam jumlah besar selain China. Beberapa negara itu, yakni Taiwan, Belanda, Jerman, Australia, dan Italia.

(bir)