Pandemi, Maybank Bahas Tantangan dan Peluang Bisnis Syariah

Maybank Indonesia, CNN Indonesia | Sabtu, 04/07/2020 13:18 WIB
Karyawan menghitung uang rupiah dan dolar AS di Bank Mandiri Syariah, Jakarta, Senin (20/4/2020). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada penutupan perdagangan Senin (20/4) sebesar 52 poin atau 0,34 persen ke level Rp15.412 per dolar AS. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/wsj. Ilustrasi. (Foto: ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Bank Maybank Indonesia melalui Unit Usaha Syariah membahas kesiapan industri syariah menghadapi era new normal setelah pandemi Covid-19 pada Kamis (2/7). Diskusi digelar secara virtual lewat forum webinar MayBank Indonesia Shariah Thought Leaders Forum 2020 dengan topik From Niche to Mainstream.

Dalam forum yang dapat diakses oleh masyarakat lewat situs Maybank Indonesia itu, para pakar keuangan syariah, praktisi perbankan, pelaku bisnis, serta regulator saling berbagi pengalaman dan pelatihan untuk membangun bisnis perbankan syariah yang sesuai dengan kaedah dan prinsip.

Presiden Direktur Taswin Zakaria mengatakan, pihaknya telah menjalankan strategi Shariah First melalui Unit Usaha Syariah, yang memperkenalkan solusi keuangan berbasis syariah pada masyarakat. Sejak diluncurkan pada 2014, inisiatif tersebut berkontribusi sebesar 20 persen terhadap aset Maybank, serta mendukung perusahaan menjadi salah satu bank yang melakukan pembiayaan syariah pada sejumlah proyek strategis, termasuk di bidang infrastruktur, pertambangan, transportasi udara dan pengelolaan bandara.


"Potensi pengembangan perbankan syariah di Indonesia sangat menjanjikan, dan dalam kondisi pasar yang melemah akibat pandemi global, perbankan
syariah masih tetap dapat memberikan kontribusi dalam perekonomian nasional,"

"Untuk dapat merealisasikan kontribusi dan perannya, perbankan syariah membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai seperti di antaranya regulasi, kesiapan teknologi, investasi sumber daya guna melakukan penetrasi pasar dan penyediaan solusi keuangan berbasis syariah yang menjawab kebutuhan masyarakat dan tantangan bisnis saat ini."

Lebih lanjut Taswin mengungkapkan, Indonesia yang merupakan salah satu negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia sebenarnya sudah cukup mengenal sistem ekonomi dan keuangan berbasis syariah. Pada 2019, pangsa pasar keuangan syariah masih sebesar 8 persen, di mana pemerintah telah memproyeksikan peningkatan di angka 20 persen pada 2023-2024 mendatang.

Target itu sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku industri perbankan syariah. Terlebih kemudian pandemi Covid-19 mewabah dan berdampak besar pada ekonomi dan aktivitas bisnis. Di saat bersamaan, Taswin melihat inovasi teknologi digital pun turut marak.

"Berbagai inovasi dan solusi berbasis teknologi digital hadir dan telah mempercepat proses adaptasi masyarakat dalam penggunaan teknologi tersebut. Hal ini mampu menggerakkan kembali perputaran ekonomi pada sektor ritel, termasuk food & beverage, melalui e-commerce, serta sektor perbankan untuk memenuhi kebutuhan transaksi finansial melalui pemanfaatan teknologi tersebut," kata Taswin.

(rea)


BACA JUGA