REKOMENDASI SAHAM

Karpet Merah Jokowi untuk Investor Pemanis Saham Konstruksi

Wella Andany, CNN Indonesia | Senin, 06/07/2020 08:46 WIB
Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan kerja ke Jateng, Selasa (30/6) Presiden Jokowi saat kunjungan kerja ke kawasan industri Batang, Jawa Tengah. (Laily Rachev - Biro Setpres).
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Joko Widodo (Jokowi), pekan lalu, membuka kawasan industri di Batang, Jawa Tengah. Demi menarik ratusan calon investor, termasuk investor China, ia menekankan pentingnya kesiapan lahan, harga yang kompetitif dan kemudahan perizinan.

Usai pernyataan itu, emiten konstruksi melihat secercah harapan untuk bangkit dari keterpurukannya di sepanjang kuartal pertama tahun ini. Tengoklah, kinerja saham emiten sektor konstruksi minus 32,84 persen per Maret 2020 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.


Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Chris Apriliony menyebut kepastian relokasi tujuh pabrik dari China, Jepang, dan Korea, menjadi lampu hijau bagi pelaku konstruksi yang sepi kontrak, terutama sejak pandemi virus corona masuk ke RI.



Selain itu, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengungkap terdapat 17 perusahaan lainnya yang tengah berproses masuk ke Indonesia dengan total investasi US$37 miliar dan potensi penyerapan tenaga kerja sebesar 112 ribu orang.

Sentimen pendorong seperti ini lah yang tengah diharapkan oleh investor di tengah pandemi virus corona. "Tentu, dengan proyek ini, setidaknya ada titik terang bagi emiten konstruksi dalam sisi pekerjaan yang semenjak kuartal II kemarin cenderung lesu secara kontrak," ucapnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (6/7).

Demi mempercepat masuknya investor asing. Pembangunan di kawasan Batang pun dikebut dan ditargetkan selesai pada akhir tahun ini. Untuk pengembangan kawasan industri Batang, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sudah memanggil menteri terkait seperti Menteri Perindustrian Agus Gumiwang.

Semangat bahu-membahu lintas Kementerian tersebut dinilainya akan mengangkat saham-saham sektor konstruksi. Namun, ia bilang untuk sementara masih emiten BUMN yang akan menikmati pertumbuhan. 

Oleh karena itu, Chris merekomendasikan saham PT Pembangunan Perumahan Persero Tbk (PTPP) dan PT Wijaya Karya Persero Tbk (WIKA). Namun, ia tak mematok harga beli atau harga target.

"Untuk sementara ini terlihat dari sisi BUMN karena biasanya yang mendapatkan bagian cukup besar untuk proyek-proyek BUMN lebih kepada emiten konstruksi BUMN itu sendiri," jelasnya.

Akumulasi pembelian, lanjutnya, dapat mulai dilakukan dengan catatan investor juga memantau angka penyebaran virus corona yang hingga saat ini masih tinggi. Meski berpotensi menguat, ia memprediksi kinerja emiten terkait tidak bakal balik normal dalam jangka pendek atau hingga kuartal III mendatang.

Sepaham, pendiri Ellen May Institute sekaligus Analis Ellen May menilai PTPP sebagai emiten BUMN dengan perolehan kontrak terbesar di sektor kontsruksi memang layak dipantau. Ia menyebut PTPP memiliki kontrak senilai Rp7,5 triliun untuk Januari-Mei 2020.


Pencapaian ini setara dengan 18 persen dari target kontak baru tahun ini yaitu Rp40,36 triliun. Rendahnya realisasi tersebut, lanjutnya, tidak terelakkan akibat pandemi covid-19.


"Target tersebut kemungkinan akan direvisi mengingat hasil stress test (uji kondisi terburuk) PTPP menunjukkan hasil penerimaan kontrak baru hanya sebesar Rp23,57 triliun atau hanya 58,4 persen dari target awal," kata Ellen.


Diketahui, PTPP dan sejumlah perusahaan BUMN lainnya di bidang konstruksi melakukan stress test sebagai respon terhadap pandemi covid-19. Selain mengkaji kinerja operasi dan keuangan perseroan, evaluasi target proyek tertunda juga dilakukan. 

PTPP memangkas anggaran belanja modal (capital expenditure) dari Rp5,4 triliun menjadi Rp 3,4 triliun. Lesunya pengerjaan proyek tercermin dalam pendapatan PTPP pada kuartal I 2020 yang turun 3,1 persen menjadi Rp3,4 triliun secara year on year (yoy) dengan margin laba kotor sebesar 7,7 persen.


[Gambas:Video CNN]

Laba perusahaan pun anjlok 92,39 persen dari Rp171,15 miliar pada kuartal I 2019 menjadi hanya Rp13,31 miliar pada kuartal sama 2020.


Dari sisi aset, perseroan mencatat penurunan sebesar 1,67 persen dibandingkan 2019 yaitu dari Rp54,72 triliun menjadi Rp55,65 triliun.

Sementara, untuk total utang PTPP meningkat dibanding akhir 2019 menjadi Rp40,56 triliun pada kuartal I 2020. Rincinya, Rp28,3 triliun utang jangka pendek dan Rp12,3 triliun utang jangka panjang. 

"Kami mereferensikan pembelian PTPP untuk swing trading dengan pembelian maksimal di level 920 sebanyak maksimal 5 persen dari modal swing trading," ungkapnya seperti dikutip dari risetnya.

Namun, Ellen menyarankan untuk jual jika harga turun dari 850 untuk pembatasan risiko dengan perkiraan ambil untung di kisaran 1.050-1.100.


PTPP pada perdagangan Jumat (3/7) menutup pasar di posisi 955 yang menurut Ellen telah keluar dari posisi resistennya di area 875. Ia meramal kenaikan tersebut diikuti oleh peningkatan volume perdagangan yang signifikan.


"Kami mereferensikan pembelian PTPP untuk jangka pendek mengingat pasar masih dalam kondisi sideways (melambat) dan tidak disarankan untuk agresif masuk ke pasar," tuturnya.

(bir)