Kilau Harga Emas Diproyeksi Picu Inflasi Agustus 0,01 Persen

CNN Indonesia | Sabtu, 08/08/2020 06:00 WIB
Survei BI menyebut potensi inflasi sebesar 0,01 persen pada Agustus karena kenaikan harga emas di tengah pandemi corona. Survei BI menyebut potensi inflasi sebesar 0,01 persen pada Agustus karena kenaikan harga emas di tengah pandemi corona. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A).
Jakarta, CNN Indonesia --

Hasil survei pemantauan Indeks Harga Konsumen (IHK) Bank Indonesia (BI) pekan pertama ini mencatat potensi kenaikan harga atau inflasi sebesar 0,01 persen secara bulanan pada Agustus 2020. Inflasi terjadi karena kenaikan harga emas perhiasan pada beberapa waktu terakhir. 

Direktur Eksekutif sekaligus Kepala Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko mengungkapkan emas perhiasan mengalami inflasi sekitar 0,09 persen secara bulanan. Sumbangan inflasi juga akan diberikan oleh bahan pangan. 

"Penyumbang inflasi, antara lain cabai merah sebesar 0,03 persen, minyak goreng, ikan kembung, dan cabai rawit masing-masing sebesar 0,01 persen," kata Onny dalam keterangan resmi, Jumat (7/8). 


Sementara, komoditas yang mengalami penurunan harga alias deflasi adalah daging ayam ras sebesar minus 0,11 persen. Begitu pula, dengan bawang merah minus 0,06 persen dan tomat minus 0,01 persen. 

"Telur ayam ras dan jeruk masing-masing sebesar minus 0,02 persen," terang dia.

Dari hasil survei itu, inflasi tahun berjalan diperkirakan menyentuh 0,99 persen. Sedangkan, inflasi tahunan sebesar 1,39 persen pada bulan ini. 

Onny mengatakan BI akan senantiasa memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga tingkat inflasi.

Hal ini dilakukan dengan memonitor perkembangan pandemi virus corona atau covid-19 dan dampaknya bagi perekonomian Indonesia.

Pada Juli 2020, penurunan harga bawang merah dan daging ayam ras membuat IHK mengalami deflasi 0,1 persen secara bulanan. Sementara inflasi tahun berjalan sebesar 0,98 persen dan inflasi tahunan 1,54 persen. 

[Gambas:Video CNN]



(uli/bir)