AS Tunda Kenaikan Tarif Impor Barang Uni Eropa

CNN Indonesia | Kamis, 13/08/2020 20:45 WIB
Pemerintah AS memberi sinyal untuk menempuh jalur negosiasi sebelum mengenakan kenaikan tarif yang dipicu oleh sengketa subsidi Airbus. Pemerintah AS memberi sinyal untuk menempuh jalur negosiasi sebelum mengenakan kenaikan tarif yang dipicu oleh sengketa subsidi Airbus. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Amerika Serikat (AS) menunda kenaikan tarif atas barang impor asal Uni Eropa (UE) setelah sebelumnya memenangkan sengketa Boeing vs Airbus.

Gedung Putih awalnya ingin 'menghukum' UE dengan mengenakan tarif sebesar 25 persen untuk beberapa komoditas EU seperti anggur, keju, dan zaitun.

Ancaman itu keluar setelah AS memenangkan sengketa. Organisasi perdagangan dunia (World Trade Organization/WTO) terkait subsidi ilegal Airbus. Dalam sengketa itu, WTO menilai AS dirugikan sebesar US$7,5 miliar atau setara Rp105 triliun (kurs Rp14 ribu per dolar AS).


AS juga telah menaikkan tarif sebesar 10 persen terhadap pesawat Airbus sejak Maret. Atas keputusan itu, UE menyatakan keberatan dan meminta agar kenaikan tarif dicabut. UE menilai pihaknya telah patuh atas keputusan WTO dan tak seharusnya dihukum.

"EU dan negara anggotanya belum mengambil tindakan yang cukup untuk dapat dikatakan mematuhi keputusan WTO," ucap perwakilan perdagangan AS Robert Lighthizer seperti dikutip dari AFP, Kamis (13/8).

Meski pemerintahan Trump menyatakan kelompok negara Eropa belum mengambil langkah memadai, AS memberi sinyal hijau untuk berdiskusi. Lightizer mengungkapkan AS berkomitmen untuk mendapatkan solusi jangka panjang atas sengketa itu.

"Oleh karena itu kami akan memulai proses baru dengan EU dalam upaya mencapai kesepakatan yang akan memperbaiki tindakan yang merugikan industri penerbangan dan pekerja AS," lanjutnya.

Pada Juni lalu, setelah direstui WTO, Negeri Paman Sam mengancam akan memungut tarif atas barang dagang EU senilai US$3,1 miliar.

Kendati melakukan perubahan kecil pada daftar barang yang akan dikenakan kenaikan tarif pada Rabu lalu, AS tak mengubah nilai barang yang akan dikenakan tarif yaitu US$7,5 miliar. Tarif pun tak berubah, tetap 15 persen untuk pesawat dan 25 persen untuk barang lainnya.

Sementara, Komisaris Perdagangan Uni Eropa Phil Hogan menyatakan akan terus bekerja sama dengan Lighthizer untuk menemukan solusi  yang akan saling menguntungkan lewat dialog konstruktif.

"Dengan perlambatan ekonomi saat ini yang berdampak khusus pada sektor perjalanan udara dan pesawat, memberikan urgensi tersendiri untuk menyelesaikan perselisihan ini," ungkap Hogan.

Pun begitu, Airbus menyatakan sikapnya yang 'sangat menyesali' keputusan AS mempertahankan tarif atas pesawat UE. Airbus mengklaim bahwa berbagai tindakan yang diambil negara-negara EU telah menunjukkan kepatuhan.

Airbus percaya bahwa Eropa akan merespons dengan tepat demi mempertahankan kepentingan semua perusahaan dan sektor bisnis di Eropa, termasuk Airbus yang menjadi sasaran tarif AS.

Sebagai informasi, pertikaian antara Airbus dan Boeing dimulai pada 2004 saat AS menuduh Inggris, Prancis, Jerman, dan Spanyol memberikan subsidi dan hibah ilegal untuk mendukung produksi berbagai produk Airbus.

[Gambas:Video CNN]

Kemudian, Airbus mencapai kesepakatan dengan pemerintahan Prancis dan Spanyol untuk menaikkan suku bunga atas pembiayaan pengembangan jet jarak jauh A350 sesuai arahan WTO.

Komisi Eropa (The European Commission) menyatakan keputusan tersebut seharusnya menghilangkan alasan AS untuk mempertahankan tarif yang dikenakan pada ekspor UE di bawah putusan WTO. Mereka juga mengharapkan ikhtiar AS segera untuk menyelesaikan sengketa.

(wel/sfr)