RI Terancam Masuk Jurang Resesi, Daya Beli Paling Terpukul

CNN Indonesia | Senin, 31/08/2020 12:15 WIB
Sejumlah kalangan memastikan RI masuk jurang resesi pada kuartal ketiga ini. Dampak yang paling terasa adalah daya beli masyarakat terpukul. Sejumlah kalangan memastikan RI masuk jurang resesi pada kuartal ketiga. Dampak yang paling terasa adalah daya beli masyarakat terpukul. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah kalangan memastikan Indonesia masuk ke jurang resesi pada September nanti atau kuartal ketiga 2020. Yang terbaru, Menkopolhukam Mahfud MD bahkan menyebut peluang resesi ekonomi RI mencapai 99,9 persen.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan dampak resesi ekonomi paling terasa oleh masyarakat adalah pelemahan daya beli. Bahkan, kondisi tersebut sudah mulai tampak saat ini ketika pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi pada kuartal II 2020 hingga minus 5,32 persen.

"Kalau bicara dampak yang paling terasa dan bahkan sudah dirasakan masyarakat adalah menurunnya daya beli," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (31/8).


Penurunan daya beli ini, lanjutnya, tampak dari sejumlah indikator salah satunya Indeks Penjualan Riil (IPR) yang berada dalam tren negatif. Tercatat IPR minus 17,1 persen pada Juni, meskipun membaik dari minus 20,6 persen pada Mei.

"Meskipun di periode pelonggaran PSBB, ternyata aktivitas ekonomi yang diharapkan pemerintah belum jalan dengan baik, sehingga banyak masyarakat yang daya belinya secara umum masih rendah," katanya.

Menurutnya, pelemahan daya beli memiliki efek domino kepada sektor lainnya, yakni industri manufaktur. Karena permintaan turun, lanjutnya, maka sejumlah pelaku usaha memilih untuk mengerem produksi.

Kondisi ini tampak dari sejumlah indikator yakni indeks Purchasing Managers Index (PMI) dari IHS Markit. Tercatat, PMI indeks meningkat 7,8 poin dari 39,1 poin pada Juni menjadi 46,9 pada Juli.

Namun, kenaikan itu lebih rendah dibandingkan perubah dari posisi Mei, yakni 28,6 poin ke Juni 39,1 poin.

Selain itu, lesunya industri manufaktur tampak dari penurunan impor bahan bahan baku/penolong sebesar 2,5 persen pada Juli lalu.

"Turunnya impor bahan baku itu menunjukkan permintaan dalam negeri melemah," jelasnya.

Dampak resesi ekonomi lainnya, yakni peningkatan jumlah penduduk miskin. CORE sendiri memprediksi jumlah penduduk miskin menjadi 30 juta hingga 37 juta tahun ini.

Per Maret lalu, jumlah penduduk miskin naik 1,63 juta menjadi 26,42 juta orang dibandingkan periode September 2019.

Namun, ia menyatakan masyarakat sebaiknya tidak bersikap panik. Pasalnya, jika masyarakat panik kemudian melakukan pembelian barang dalam jumlah banyak (panic buying) maupun menarik uang dalam jumlah besar, justru akan memperburuk situasi.

Menurutnya, hal yang perlu dilakukan masyarakat adalah tetap tenang sembari menyiapkan langkah mitigasi resesi ekonomi.

"Misalnya, lebih banyak hemat dan menabung, kalau mungkin sediakan dana darurat itu umumnya sekitar 3 sampai 4 kali pendapatan. Saya kira itu langkah yang harus dilakukan masyarakat ketimbang panik karena akan memperburuk resesi ekonomi," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

Senada, Ekonom Indef Eko Listiyanto mengatakan dampak nyata resesi ekonomi adalah penurunan daya beli masyarakat.  

"Dampak merosotnya daya beli karena pendapatan masyarakat hilang atau terpangkas kemudian akhirnya masyarakat tidak bisa konsumsi normal seperti waktu tidak ada resesi," imbuhnya.

Selanjutnya, penurunan daya beli akan berpengaruh pada kenaikan jumlah pengangguran dan kemiskinan. Bahkan, ia menyatakan sebetulnya dua indikator tersebut sudah dialami Indonesia saat ini.

"Tahap berikutnya kalau resesi berkepanjangan dan tidak bisa diatasi dalam setahun, misalnya 2021 masih tumbuh negatif itu namanya depresi ekonomi," katanya.

Namun, sepakat dengan Yusuf ia mengimbau masyarakat tidak perlu khawatir. Sejalan dengan itu, ia menyatakan pemulihan ekonomi akibat resesi ini sangat bergantung pada kebijakan pemerintah.

Utamanya, kebijakan terkait penanganan pandemi corona. Sebab, menurutnya, masyarakat masih akan menahan konsumsi apabila pandemi ini masih bertambah lantaran mereka melihat ketidakpastian.

"Masyarakat tidak perlu khawatir karena dalam konteks resesi itu ada peluang, kalau kepanjangan kemudian masyarakat hati hati," tandasnya.

(ulf/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK