Jejak Ekonomi Jepang di Tangan Shinzo Abe

CNN Indonesia | Jumat, 28/08/2020 15:04 WIB
Di bawah kepemimpinan Shinzo Abe, Jepang bekerja keras untuk keluar dari lingkaran resesi. Di bawah kepemimpinan Shinzo Abe, Jepang bekerja keras untuk keluar dari lingkaran resesi. (AP/Yoshitaka Sugawara).
Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dilaporkan akan mengundurkan diri karena masalah kesehatan. Penyakitnya dikabarkan memburuk, sehingga dikhawatirkan menimbulkan masalah.

Abe mulai terjun ke politik pada 1993 silam. Kemudian, ia terpilih menjadi Perdana Menteri Jepang pada September 2006-September 2007.

Kemudian, ia memutuskan untuk mundur dari jabatannya. Pada Desember 2012, Abe terpilih kembali menjadi perdana menteri.


Selanjutnya, Abe terpilih kembali menjadi perdana menteri pada 2014 dan 2017. Dengan masa jabatan itu, ia disebut-sebut sebagai Perdana Menteri Jepang terlama, yakni lebih dari 2.700 hari.

Ekonomi Jepang terbilang fluktuatif sejak 2005. Bahkan Negeri Matahari Terbit itu sempat mengalami resesi. Mengutip dari berbagai sumber, perekonomian Jepang tumbuh selama enam kuartal berturut-turut pada kuartal I/2005 hingga kuartal II/2006.

Kemudian, ekonomi Jepang tercatat minus pada kuartal IV/2015 sebesar 1,4 persen. Ini terjadi lantaran konsumsi masyarakat anjlok.

Beruntung, ekonomi Negeri Sakura itu berhasil membaik pada kuartal II/2017 dengan mencatatkan pertumbuhan hingga 4 persen. Konsumsi masyarakat dan belanja perusahaan yang meningkat menjadi pendorong bagi ekonomi Jepang.

Selanjutnya, ekonomi Jepang kembali tumbuh pada kuartal II/2018 sebesar 3 persen. Angka itu lebih tinggi dari prediksi sejumlah pihak yang hanya 2,6 persen.

Bergejolak 2019

Sayang, ekonomi Negeri Sakura bergejolak pada akhir 2019. Angka yang semula positif langsung berbanding terbalik menjadi minus 1,6 persen pada kuartal IV /2019.

Pemerintah Jepang menyatakan pelemahan ekonomi terjadi karena kenaikan tarif pajak dari 8 persen menjadi 10 persen. Kenaikan pajak membuat konsumsi rumah tangga turun 2,9 persen.

Lalu, ekonomi Jepang kembali minus 0,9 persen pada kuartal I/2020 jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Realisasi ini membuat Jepang resmi masuk jurang resesi.

[Gambas:Video CNN]

Ekonom Capital Economics Jepang Tom Learmouth memprediksi angka pertumbuhan ekonomi Jepang akan lebih buruk pada kuartal II/2020. Ia bahkan melihat Jepang bisa turun hingga 12 persen dari kuartal sebelumnya.

Maklum, konsumsi swasta sudah turun 0,7 persen. Meski penurunannya kecil, tapi efeknya cukup besar karena kontribusinya terhadap ekonomi Jepang sekitar 50 persen.

Sementara ekspor yang memiliki porsi 16 persen dalam perekonomian Jepang telah menyusut hingga 6 persen pada kuartal I/2020. Penyusutan ini menjadi yang terbesar untuk sektor ekspor sejak 2011. Saat itu, Jepang dihantam gempa bumi dan tsunami.

(aud/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK