Bangkrut, Puluhan Perusahaan Raksasa AS Ajukan Pailit

CNN Indonesia
Senin, 14 Sep 2020 10:06 WIB
Puluhan perusahaan raksasa AS mengajukan pailit. Tekanan bisnis makin terasa di tengah pandemi covid-19 yang berujung pada resesi AS. Puluhan perusahaan raksasa AS mengajukan pailit. Tekanan bisnis makin terasa di tengah pandemi covid-19 yang berujung pada resesi AS. (AFP/William West).
Jakarta, CNN Indonesia --

Puluhan perusahaan berskala besar di Amerika Serikat (AS) mulai mengajukan kebangkrutan atau pailit di tengah resesi ekonomi Negeri Paman Sam. Pengajuan pailit berasal dari berbagai sektor usaha, mulai dari penerbangan, minyak dan gas, hingga hiburan. 

Melansir CNN Business, berdasarkan data Bank Investasi Jefferies, tercatat jumlah perusahaan bangkrut di AS meningkat 244 persen pada Juli-Agustus 2020 dibanding Juli-Agustus 2019. Bahkan, jumlahnya diperkirakan bakal bertambah lagi pada September ini. 

Sebab, Jefferies mencatat peningkatan pailit pada sebulan terakhir sudah mencapai 120 persen. Teranyar, pailit diajukan oleh Chesapeake Energy, perusahaan peralatan dapur kelas atas Sur La Table, dan Cirque du Soeil.

"Ada banyak perusahaan yang dirugikan meski kami bekerja 24 jam sehari," ungkap Joseph Acosta, mitra di Dorsey & Whitney yang fokus pada isu kebangkrutan, dikutip Senin (14/9). 

Sementara, daftar perusahaan AS yang sudah mengajukan pailit, yaitu Brooks Brothers, Hertz, California Pizza Kitchen, dan Chuck E. Lord & Taylor dan Century 21 juga berpotensi pailit karena telah menutup sepenuhnya operasional mereka. 

Sedangkan perusahaan yang dikabarkan masih cukup beruntung karena berhasil menemukan pembeli di tengah pandemi virus corona atau covid-19, yakni JCPenney, department store yang sudah berusia 118 tahun.

Dari sisi sektor usahanya, pengajuan kebangkrutan dari perusahaan di sektor penerbangan meroket 110 persen. Lalu, industri minyak dan gas naik 45 persen dan industri hiburan meningkat 22 persen.

"Jumlah kebangkrutan saat ini belum mencapai puncaknya. Puncaknya akan datang saat pemerintah menghentikan paket bantuan," tutur Acosta.

Di sisi lain, Jefferies mencatat pengajuan pailit cukup minim dari perusahaan berskala menengah ke bawah. Lembaga menduga hal ini terjadi berkat suntikan dana bantuan bagi sektor industri itu dari bank sentral AS, The Federal Reserve, 

Namun, ia menduga ada asumsi lain yang membuat para perusahaan skala menengah kecil tak mengajukan pailit, yaitu ketidakmampuan untuk menutup biaya pengajuan pailit. 

"Mungkin juga karena ada perbedaan kas/likuiditas yang tidak mencukupi untuk menyewa pengacara kebangkrutan," jelas Analis Perbankan Jefferies, Ken Usdin.

[Gambas:Video CNN]



(uli/bir)
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER