Harga Minyak Terus Turun, Tertekan Perlambatan Ekonomi Global

CNN Indonesia | Selasa, 15/09/2020 08:38 WIB
Harga minyak mentah dunia melanjutkan tren penurunan seiring dengan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap pemulihan ekonomi global. Harga minyak mentah dunia melanjutkan tren penurunan seiring dengan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap pemulihan ekonomi global. Ilustrasi kilang minyak. (CNN Indonesia/Agus Triyono).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak mentah dunia meneruskan penurunan pada perdagangan awal pekan ini. Penurunan harga minyak terjadi karena kekhawatiran pelaku pasar terhadap prospek pemulihan ekonomi global meningkat.

Dilansir dari Antara, Selasa (15/9), harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November turun 22 sen atau 0,6 persen menjadi US$39,61 per barel di London ICE Futures Exchange.

Sementara, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober turun 7 sen atau 0,2 persen menjadi US$37,26 per barel di New York Mercantile Exchange. 


Menurut Pialang Minyak PVM Tamas Varga, kekhawatiran pelaku pasar muncul dari jumlah kasus positif virus corona atau covid-19 yang kembali meningkat di dunia.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organizations/WHO) mencatat jumlah kasus telah mencapai 28,91 juta orang dengan jumlah kematian sebanyak 922 ribu orang per 14 September kemarin. 

Hal ini membuat prospek permintaan minyak dunia juga melemah. Selanjutnya, permintaan yang rendah bisa membuat harga semakin jatuh. 

"Tingkat infeksi (virus corona) meningkat lagi. Ada penguncian lokal yang diterapkan di banyak negara yang menghambat pertumbuhan ekonomi regional dan jumlah pengangguran gagal turun secara signifikan. Hal ini menyebabkan pertumbuhan permintaan minyak suram," katanya. 

Sementara dari sisi produksi, jumlah produksi minyak mentah di AS tetap berjalan usai diterpa Badai Sally yang berlangsung di Teluk Meksiko, sebelah barat Florida, AS.

Badai sempat membuat perusahaan energi Negeri Paman Sam mengurangi produksi sekitar 395.790 barel per hari (bph) atau 21,4 persen dari kapasitas. 

Badai telah mengganggu produksi, namun tidak memberi dampak peningkatan harga. Padahal, biasanya harga minyak akan naik ketika produksi dihentikan. 

Hanya saja, dengan pandemi virus corona yang semakin parah, kekhawatiran permintaan mengemuka dan pasokan global terus meningkat. 

"Badai membuat produksi dihentikan di Teluk Meksiko, dan pasar tidak peduli, itu menunjukkan betapa buruk situasinya," kata Direktur Energi Berjangka Mizuho di New York, Bob Yawger.

Di sisi lain, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) memperkirakan permintaan minyak dunia akan turun 9,46 juta bph pada tahun ini. Jumlahnya lebih tajam dari yang diperkirakan dalam laporan bulan lalu.

Namun, OPEC bersama Rusia atau dikenal OPEC+ baru akan membicarakan prospek ini pada pertemuan 17 September mendatang. Sementara Komandan Khalifa Haftar di Libya, berkomitmen untuk mengakhiri blokade fasilitas minyak selama berbulan-bulan. Hal ini dinilai akan menambah pasokan ke pasar.

"Jika produksi Libya segera kembali beroperasi, kita berbicara tentang satu juta barel per hari atau lebih, ini akan menjadi tambahan yang signifikan untuk keseimbangan global dan pasar memperhitungkannya hari ini," ujar Kepala Pasar Minyak di Rystad Energy, Bjornar Tonhaugen.

[Gambas:Video CNN]



(uli/bir)