Mengintip Utang Pertamina yang Disinggung Ahok

CNN Indonesia | Rabu, 16/09/2020 13:55 WIB
Berdasarkan laporan keuangan yang belum diaudit, PT Pertamina (Persero) memiliki utang sebesar US$40,56 miliar atau setara Rp602,43 triliun per 30 Juni 2020. Berdasarkan Laporan Keuangan Pertamina yang belum diaudit, perusahaan memiliki utang sebesar US$40,56 miliar atau setara Rp602,43 triliun per 30 Juni 2020. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi).
Jakarta, CNN Indonesia --

Utang PT Pertamina (Persero) mendadak jadi sorotan publik karena disinggung oleh Komisaris Utama Basuki Tjahja Purnama atau Ahok. Bahkan, Ahok sempat mengungkapkan kekesalannya karena perusahaan minyak nasional itu terus menambah utang.

Dalam sebuah unggahan video di akun Youtube POIN, Ahok menyebut utang BUMN itu mencapai US$16 miliar atau setara Rp237,6 triliun (kurs Rp14.850 per dolar AS). Namun, Pertamina, kata Ahok, masih terus berpikir untuk menambah utang.

"Udah utang US$16 miliar. Tiap kali otaknya minjem duit. Saya kesel nih," ungkap mantan gubernur DKI Jakarta itu.


Ahok bilang Pertamina biasanya menarik utang untuk memenuhi kebutuhan biaya akuisisi kilang minyak di luar negeri. Padahal, menurutnya, akuisisi di luar negeri tidak serta merta perlu dilakukan karena perusahaan sebenarnya memiliki 12 titik sumber minyak yang belum dieksplorasi.

"Ngapain di luar negeri. Jangan-jangan ada komisi beli-beli minyak," ucapnya.

Lantas, seberapa besar utang Pertamina sebenarnya?

Berdasarkan Laporan Keuangan Pertamina per 30 Juni 2020 yang belum diaudit, perusahaan memiliki utang sebesar US$40,56 miliar atau setara Rp602,43 triliun. Jumlah utang naik 13,1 persen dari US$35,86 miliar pada 31 Desember 2019.

[Gambas:Video CNN]

Utang itu terdiri dari utang jangka pendek US$13,14 miliar atau Rp195,12 triliun dan utang jangka panjang US$27,42 miliar atau Rp407,18 triliun. Utang jangka pendek naik 8,05 persen dari US$12,16 miliar dan utang jangka panjang meningkat 15,69 persen dari US$23,7 miliar.

Utang jangka pendek terdiri dari pinjaman jangka pendek US$2,14 miliar, utang usaha US$3 miliar, utang pemerintah US$1,17 miliar, utang pajak US$719,9 juta, beban akrual US$2,65 miliar, utang obligasi US$391,37 juta, dan lainnya.

Sementara utang jangka panjang terdiri dari utang pemerintah US$783,31 juta, utang obligasi US$14,56 miliar, liabilitas pajak tangguhan US$3,66 miliar, dan lainnya.

Sedangkan total aset perusahaan sebesar US$70,22 miliar atau naik 4,68 persen dari sebelumnya US$67,08 miliar pada akhir tahun lalu. Total ekuitas perusahaan US$29,66 miliar atau turun 4,96 persen dari US$31,21 miliar.

(uli/sfr)