BPS Umumkan NTP Naik pada September 2020

Kementan Sekjen, CNN Indonesia | Kamis, 01/10/2020 17:26 WIB
Badan Pusat Statistik mengumumkan Nilai Tukar Petani mengalami peningkatan sebesar 0,99 persen pada September lalu. Ilustrasi petani. (Foto: ANTARA FOTO/CANDRA YANUARSYAH)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Pusat Statistik merilis angka Nilai Tukar Petani (NTP) yang tercatat mengalami peningkatan pada Kamis (1/10). Pada September lalu, NTP mencapai 101,66 naik 0,99 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Tak hanya NTP, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) juga menjadi 101,74, naik 0,90 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, NTP dan NTUP digunakan sebagai indikator tingkat kesejahteraan petani.

"Pergerakan NTUP dan NTP ini searah," ujarnya.


Menurut Suhariyanto, kenaikan NTP itu seiring dengan peningkatan NTP perkebunan rakyat yang bulan lalu naik 2,67 persen menjadi 105,76 persen. Hal itu disebabkan karena harga komoditas seperti kelapa sawit, karet, kakao, kopi, dan tembakau yang juga naik.

Selain perkebunan, NTP tanaman pangan juga meningkat sebesar 0,9 persen. NTP tanaman pangan mencapai 101,53 karena indeks harga yang diterima mengalami kenaikan cukup tinggi yakni 0,85 persen; sementara indeks yang dibayar menurun.

Tak sampai di sana, kenaikan NTP tanaman pangan tersebut diikuti peningkatan harga gabah di tingkat petani sebesar 1,53 persen month-to-month menjadi Rp.4.891/kg.

Stok Beras Aman Sampai Akhir Tahun

Dalam kesempatan berbeda, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian Kuntoro Boga Andri menyebutkan peningkatan NTP dan NTUP sebagai hasil kerja keras para petani.

"Menteri Pertanian mengarahkan kawan-kawan di lapangan untuk mengawal petani dalam melakukan percepatan tanam sejak Mei kemarin. Kerja keras petani dalam melakukan percepatan tanam tersebut bisa dirasakan saat ini. Di banyak wilayah sekarang sudah mulai masuk panen," ucap Kuntoro.

Gerakan percepatan tanam padi yang digawangi oleh Kementan tersebut menjadi respons atas arahan Presiden Joko Widodo dalam mengantisipasi krisis pangan, seperti yang diingatkan Food and Agriculture Organization (FAO) di awal pandemi. Kuntoro menyebut, dengan gerakan percepatan tanam dan sejumlah strategi lainnya, stok beras tahun ini diperkirakan dalam kondisi aman.

Pada masa tanam pertama, yakni pada Januari hingga Juni 2020, gabah hasil produksi yang dihasilkan oleh lahan seluas 5,8 juta hektare tercatat sebanyak 29,02 juta ton. Adapun beras yang dihasilkan dari gabah itu mencapai 16,65 juta ton. Sementara pada periode Juli hingga Desember 2020, produksi beras yang dihasilkan petani sebesar 12,5-15 juta ton.

(rea)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK