Sisa Belanja Pusat dan Daerah Masih Rp1.200 T pada Kuartal IV

CNN Indonesia | Kamis, 12/11/2020 16:38 WIB
Menkeu Sri Mulyani menyatakan pemerintah akan menggenjot sisa belanja pemerintah pusat dan daerah pada kuartal IV 2020 agar momentum pemulihan ekonomi terjaga. Pemerintah akan menggenjot sisa dana belanja pemerintah pusat dan daerah pada kuartal IV 2020 agar momentum pemulihan ekonomi tetap terjaga. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan sisa belanja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) pada kuartal IV 2020 lebih dari Rp1.200 triliun. Pemerintah akan mengoptimalkan penggunaan dana itu agar bisa terserap pada akhir tahun.

"Dari APBN dan APBD untuk kuartal IV 2020 bisa lebih dari Rp1.200 triliun sendiri. Kecepatan penyerapan dan penggunaannya dari sisi seluruh kementerian/lembaga maupun pemerintah daerah," ujar Sri Mulyani dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Kamis (12/11).

Bendahara negara merinci penyerapan APBN hingga akhir September 2020 sebesar Rp1.211 triliun dari target Rp1,975 triliun. Artinya, ada sisa dana dari pusat sekitar Rp764 triliun.


Sementara, penyerapan APBD hingga akhir September 2020 sebesar Rp575,45 triliun dari target Rp1.080,71 triliun. Artinya, ada sisa sebesar Rp505 triliun.

Sri Mulyani menyatakan pihaknya akan menggenjot sisa dana belanja pada dua bulan terakhir tahun ini. Namun, hal itu juga akan bergantung pada masing-masing kementerian/lembaga di pusat dan daerah.

"Kami harapkan pada kuartal IV 2020 momentum pemulihan tetap bisa terjaga karena seperti pada kuartal III kami lihat ada dorongan yang berasal dari belanja pemerintah sangat menentukan turn around dari perekonomian," jelas Sri Mulyani.

Ia berharap belanja pemerintah bisa mendorong perekonomian pada akhir tahun. Sebab, semakin banyak penyerapan dana, maka semakin banyak pula dana yang mengalir di masyarakat.

[Gambas:Video CNN]

Diketahui, satu-satunya komponen pengeluaran Produk Domestik Bruto (PDB) yang tumbuh positif pada kuartal III adalah konsumsi pemerintah, yakni sebesar 9,76 persen. Angka ini membaik dari kuartal II 2020 yang mengalami minus 6,90 persen dan kuartal III 2019 yang hanya tumbuh tipis 0,98 persen.

Sementara, komponen lainnya negatif. Rinciannya, konsumsi rumah tangga minus 4,04 persen, investasi minus 6,48 persen, ekspor minus 10,82 persen, impor minus 21,86 persen, dan konsumsi Lembaga Non Profit yang melayani Rumah Tangga (LNPRT) minus 2,12 persen.

Secara keseluruhan, ekonomi Indonesia minus 3,49 persen pada kuartal III 2020. Angka tersebut anjlok dari periode yang sama tahun lalu, yakni 5,02 persen.

(aud/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK