66.924 Rekening Calon Penerima BLT Pekerja Masih Bermasalah

CNN Indonesia | Rabu, 16/12/2020 13:20 WIB
BPJS Ketenagakerjaan mengungkapkan salah satu penyebab tranfer BLT pekerja gagal dilaksanakan karena rekening calon penerima telah ditutup. BPJS Ketenagakerjaan mengungkapkan salah satu penyebab tranfer BLT pekerja gagal dilaksanakan karena rekening calon penerima telah ditutup. Ilustrasi. (CNN Indonesia/ Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto menyebut masih ada 66.924 rekening bermasalah dari calon penerima bantuan langsung tunai (BLT) berupa subsidi upah bagi pekerja bergaji di bawah Rp5 juta.

Agus menyatakan, hingga saat ini, pihaknya masih berusaha menghubungi berbagai pihak dari pekerja, pemberi kerja, hingga bank tempat rekening pekerja terdaftar.

"Masih ada 66.924 rekening yang masih dalam proses tim kami seluruh Indonesia bergerak cepat bekerja 24 jam menghubungi seluruh pihak," kata Agus pada konferensi pers virtual, Rabu (16/12).


Agus merinci, per akhir September 2020, sebanyak 12,4 juta rekening diserahkan kepada Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker). Setelah dilakukan validasi berlapis, masih ditemukan sebanyak 154.887 rekening yang tidak bisa ditransfer alias bermasalah.

Dari total rekening bermasalah itu, pihak terkait melakukan perbaikan dan sebanyak 87.963 di antaranya sudah diperbaiki dan diserahkan kepada Kemenaker.

Sedangkan sisanya yakni 66.924 rekening hingga kini belum berhasil ditemukan pemecahannya. Agus bilang salah satu penyebab yang menyebabkan transfer gagal dilaksanakan yakni karena rekening telah ditutup oleh pekerja.

Kemudian, rekening yang didaftarkan bukan rekening yang terdaftar di sistem kliring nasional (SKN) Bank Indonesia.

"Ada juga rekening dibekukan, rekening diblokir, nama rekening tidak sesuai, nama pasif atau dorman jadi pada waktu validasi rekening ada tapi status rekening tidak diuji dan juga ada rekening pinjaman sehingga saat ditransfer BSU ditolak," jelasnya.

Di kesempatan sama, Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah mengatakan per 14 Desember 2020, BLT sudah disalurkan sebesar Rp27,96 triliun. Artinya, realisasi sudah mencapai 93,94 persen dari target.

Jika dilihat per termin, termin pertama sudah tersalurkan kepada 12,26 juta orang atau 98,86 persen dengan nilai sebesar Rp14,71 triliun.

Sementara, termin kedua sudah tersalurkan kepada 11,04 juta orang atau setara 89 persen dengan nilai sebesar Rp13,2 triliun.

"Jika dilihat dari realisasi tersebut memang belum mencapai 100 persen, mengapa? Pada termin pertama berdasarkan laporan Bank Penyalur terdapat sejumlah data rekening yang bermasalah dan tidak dapat ditransfer sehingga mengakibatkan retur," jelas Ida.

Ia memastikan pihaknya tak tinggal diam. Ia bilang dilakukan perbaikan data sehingga BLT dapat tersalurkan kepada pekerja.

Adapun untuk termin kedua, hingga saat ini masih dalam proses penyaluran.

"Perlu diketahui, sebelum termin kedua disalurkan pada pertengahan November kemarin, berdasarkan rekomendasi KPK, kami bersama BPJS Ketenagakerjaan berkoordinasi dengan Ditjen Pajak untuk melakukan pemadanan data. Ini prinsip kehati-hatian yang kami lakukan, mengikuti rekomendasi dari KPK," sebut Ida.

[Gambas:Video CNN]

Lebih lanjut, Ida menyebut keberlanjutan kebijakan BLT pada 2021 masih dalam tahap diskusi bersama Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN).

Kemenaker, lanjutnya, saat ini masih menunggu keputusan komite PEN dan mulai mendiskusikan desain kebijakan BSU tahun depan.

"Kemenaker siap mendukung program tahun depan dan akan menyiapkan desain kebijakannya kalo udah ada keputusan dari komite," tutup dia.

(wel/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK