Pedagang Pasar Rayu Penjual Daging Sapi Tak Mogok Jualan

CNN Indonesia | Selasa, 19/01/2021 17:28 WIB
Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) meminta pedagang daging sapi di Jabodetabek untuk tidak melakukan aksi mogok karena khawatir pasar akan sepi. Pedagang pasar minta penjual daging sapi tak mogok karena takut sepi. Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah).
Jakarta, CNN Indonesia --

Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) meminta para pedagang daging sapi di sejumlah pasar di Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek) untuk tidak melakukan aksi mogok jualan pada Rabu (20/1) sampai Jumat (22/1) mendatang. Sebab, aksi mogok tersebut justru dikhawatirkan membuat pasar sepi dan berdampak ke perdagangan komoditas pangan lainnya.

Permintaan ini disampaikan Ketua Umum IKAPPI Abdullah Mansuri melalui surat edaran resmi bernomor 91/SE/IKAPPI/I/2021 yang diterbitkan pada Selasa (19/1) ini untuk menanggapi rencana aksi mogok jualan dari para pedagang daging sapi guna memprotes kenaikan harga.

"Kami meminta kepada para pedagang daging se-Jabodetabek agar pedagang daging tidak mogok berjualan sebagai bentuk aksi tanda protes, tetapi mengurangi volume penjualan saja," ungkap Abdullah dalam surat yang diterima CNNIndonesia.com, Selasa (19/1).


Abdullah menyatakan para pedagang di pasar khawatir aksi mogok ini justru akan membuat masyarakat ogah ke pasar. Bila itu terjadi, maka efek sepinya pun akan terasa ke pedagang lain.

Menurutnya, kekhawatiran ini sangat mungkin terjadi karena kondisi perekonomian masih tertekan dampak pandemi virus corona atau covid-19. Dampaknya, ada pelemahan daya beli dari masyarakat.

"Mengingat kondisi pasar semakin sepi dan daya beli menurun, kami khawatir jika seluruh pedagang daging mogok akan berefek pada sepinya pedagang yang lain," katanya.

Tak hanya berdampak pada pedagang, ia mengingatkan para pedagang daging sapi agar turut memikirkan dampak aksi mogok ke masyarakat, konsumen, hingga para langganan. Aksi mogok dinilai sangat rentan menghilangkan langganan.

[Gambas:Video CNN]

"Pertimbangan kehilangan pelanggan adalah menjadi pertimbangan yang paling dominan dari efek mogok berdagang selama tiga hari ke depan," tuturnya.

Masalahnya, langganan para pedagang tidak hanya berasal dari ibu-ibu rumah tangga secara individu, tapi juga warung-warung rumahan, seperti warteg, warung masakan Padang, warung nasi uduk, dan lainnya. Menurut Abdullah, para pedagang warung makan ini juga memiliki hak untuk mengakses suplai daging di pasar.

"Mengingat kondisi pedagang warung rumahan yang terus melemah, kami mohon agar aksi mogok selama tiga hari ke depan dipikirkan kembali," ucapnya.

Sebelumnya, pedagang di bawah bendera Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) DKI Jakarta yang berjualan di berbagai pasar di Jabodetabek berencana mogok jualan pada tiga hari ke depan. Aksi mogok merupakan bentuk protes ke pemerintah karena harga daging sapi melambung tinggi dalam beberapa waktu terakhir.

Ketua DPP APDI Asnawi mencatat harga daging sapi tembus ke kisaran Rp130 ribu per kilogram (kg). Hal ini terjadi karena ada kenaikan harga dari distributor sekitar Rp10-12 ribu per kg dari harga awal Rp115 ribu per kg.

Artinya, harga pembelian pedagang eceran dari distributor sudah berada di kisaran Rp125-127 ribu per kg.

"Ya seharusnya pedagang jual mulai Rp130 ribu per kg, bahkan lebih sedikit, tapi apa ini mungkin di kondisi daya beli seperti sekarang ini? Orang mempertahankan hidup saja susah, ini harga daging malah naik, kan tidak ada yang beli nanti," kata Asnawi.

Masalahnya, kenaikan harga daging sapi tak sejalan dengan keuntungan yang dikantongi. Para pedagang justru merugi karena sepi peminat.

Untuk itu, ia ingin meminta penjelasan langsung dari pemerintah melalui Kementerian Perdagangan. Hari ini, katanya, kementerian berencana mengundang Asnawi dan perwakilan APDI untuk rapat bersama terkait rencana mogok di Jabodetabek dan kondisi pasokan serta harga daging sapi di pasar.

Harapan Asnawi, ada solusi konkret dari hasil rapat koordinasi hari ini. Khususnya yang berupa intervensi pemerintah dalam menstabilkan harga daging sapi di pasar.

"Kemarin saja tahu tempe bisa didengar, ya kami harapannya juga begitu, ada intervensi juga," pungkasnya.

(uli/agt)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK