Pengusaha Restoran Menjerit Harga Daging Sapi Naik 15 Persen

CNN Indonesia | Rabu, 20/01/2021 14:26 WIB
Pengusaha restoran menjerit karena harga daging sapi naik hingga 15 persen di tengah pembatasan sosial operasional bisnis mereka akibat pandemi covid-19. Pengusaha restoran menjerit karena harga daging sapi naik hingga 15 persen di tengah pembatasan sosial operasional bisnis mereka akibat pandemi covid-19. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia --

Pengusaha restoran mengaku terkena imbas kenaikan harga daging sapi yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Harga daging sapi disebut naik sekitar 10 persen sampai 15 persen dalam sepekan terakhir.

Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bidang Restoran Emil Arifin mengatakan harga daging sapi yang diterima oleh para pengusaha restoran semula berada di kisaran Rp90 ribu sampai Rp95 ribu per kilogram (kg).

Harganya memang lebih rendah dari yang dipasang pedagang eceran di pasar mencapai Rp130 ribu per kg karena diambil dari distributor daging yang sudah menjadi langganan.


Kendati sudah langganan dan membeli dalam jumlah yang lebih banyak, harga tetap saja naik. Kini, harga daging sapi yang diterima pengusaha tembus Rp105 ribu hingga Rp110 ribu per kg.

"Naik 10 persen sampai 15 persen, bergantung kualitasnya," ucap Emil kepada CNNIndonesia.com, Rabu (20/1).

Emil mengatakan kenaikan harga ini tentu akan memberatkan pengusaha restoran. Apalagi, bisnis restoran saat ini sedang terpuruk akibat pembatasan aktivitas dari pemerintah di tengah pandemi covid-19.

Sebelumnya, pemerintah mengeluarkan kebijakan Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mulai 11 Januari sampai 25 Januari 2021. PPKM diterapkan di Jawa dan Bali.

Dampak dari PPKM, restoran hanya boleh menerima pelanggan untuk makan di tempat (dine in) dengan kapasitas 25 persen. Selain itu, jam operasional dibatasi hanya sampai pukul 19.00 WIB.

"Dengan harga bahan baku meningkat, lalu ini masih PPKM, tentu ini berat sekali. Apa jalan keluarnya?" katanya.

Kendati begitu, ia belum bisa memberi estimasi seberapa besar potensi kerugian dengan kenaikan harga daging sapi terhadap pendapatan restoran. Namun, yang pasti, akan semakin menggerus keuntungan yang sudah berkurang sejak pandemi covid-19.

Berbeda dengan restoran, para pengusaha warteg rupanya tidak terlalu terganggu dengan kenaikan harga daging sapi belakangan ini.

Ketua Komunitas Warteg Indonesia (Kowantara) Mukroni mengatakan harga daging sapi memang naik, tapi menu-menu warteg sejatinya tidak banyak menggunakan daging, sehingga tidak terlalu terbebani.

"Warteg kelas biasa pengaruhnya tidak signifikan karena menunya tidak banyak," jelas Mukroni.

Menu warteg umumnya didominasi oleh komoditas pangan ayam, telur, ikan, hingga sayur-mayur. Sementara, daging kalau pun ada, tidak berupa menu daging utuh.

"Paling menunya daging cincang dan itu campuran bukan 100 persen daging murni," imbuhnya.

Karena itu, ia menyebut bisnis warteg cenderung tidak terpengaruh, meski kenaikan harga daging sapi terjadi di pasar.

Masalah pengusaha warteg, hanya pada daya beli masyarakat yang turun selama pandemi.

Sebelumnya, para pengusaha daging sapi di Jabodetabek melakukan aksi mogok jualan pada hari ini sampai Jumat (22/1) mendatang.

Aksi mogok merupakan bentuk protes kepada pemerintah karena harga mencapai Rp130 ribu per kg, namun memberikan kerugian kepada pedagang karena sepi pembeli.

[Gambas:Video CNN]



(uli/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK