Harga Minyak Naik Ditopang Permintaan BBM di Musim Dingin

CNN Indonesia | Selasa, 02/02/2021 07:41 WIB
Harga minyak dunia menguat dua persen pada awal perdagangan pekan ini karena penurunan stok AS di tengah meningkatnya permintaan BBM di musim dingin. Harga minyak dunia menguat dua persen pada awal perdagangan pekan ini karena penurunan stok AS di tengah meningkatnya permintaan BBM di musim dingin. Ilustrasi kilang minyak. (www.pertamina.com).
Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak mentah dunia menguat sekitar dua persen pada awal perdagangan pekan ini. Kenaikan harga minyak dipengaruhi oleh penurunan stok minyak AS di tengah meningkatnya permintaan bahan bakar minyak (BBM) saat musim dingin, serta badai salju di utara Amerika.

Mengutip Antara, Selasa (2/2), harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman April naik US$1,31 atau 2,4 persen menjadi US$56,35 per barel di London ICE Futures Exchange pada awal pekan ini.

Sementara, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret melejit US$1,35 atau 2,6 persen menjadi US$53,55 per barel di New York Mercantile Exchange.


Secara total, harga minyak Brent dan WTI sudah meningkat sekitar 8 persen dalam sebulan terakhir.

Analis Again Capital LLC di New York, AS, John Kilduff melihat kenaikan harga minyak dipicu oleh tingginya permintaan BBM di tengah badai salju yang menghantam Amerika bagian utara.

Badai terjadi dari Pennsylvania hingga New England. Dampak badai juga membuat gangguan di New York dan pusat kota besar lainnya.

Permintaan itu meningkat di tengah penurunan stok minyak AS. Tercatat, jumlah stok berkurang sekitar 2,3 juta barel pada pekan lalu.

"Minyak mentah didukung oleh banyak faktor kecil minggu ini, perkiraan penurunan di Cushing, kenaikan tak terduga permintaan bahan bakar musim dingin di tengah cuaca yang lebih dingin, dan pembicaraan lebih lanjut di Capitol Hill tentang stimulus bantuan tunai," kata Kilduff.

Goldman Sachs memperkirakan harga minyak bisa tembus US$65 per barel pada Juli 2021. Kenaikan harga ini akan didorong oleh defisit minyak di pasar mencapai 900 ribu barel per hari pada akhir kuartal I 2021.

Di sisi lain, para analis memperkirakan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) akan mengurangi pembatasan pasokan lebih lanjut, meski pertumbuhan produksi kemungkinan lebih kecil dari perkiraan.

"Sepertinya kepatuhan OPEC benar-benar mendorong minyak lebih tinggi, serta ekspektasi bahwa kita akan melihat persediaan AS mengetat selama beberapa minggu ke depan," terang Analis di Price Futures Group di Chicago, Phil Flynn.

Di sisi lain, produksi kondensat minyak dan gas Rusia meningkat pada Januari 2021, meski jumlahnya masih sejalan dengan keputusan OPEC. Sedangkan di AS, pengeboran minyak dan gas tengah disiapkan untuk menunjang permintaan yang mungkin lebih tinggi dalam beberapa waktu ke depan.

Data produksi AS dari Badan Informasi Energi menunjukkan produksi naik di atas 11 juta barel per hari pada November 2020. Jumlah itu lebih tinggi dari April 2020.

[Gambas:Video CNN]



(uli/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK